“peningkatan hasil belajar IPS melalui model kooperatif tipe Number Head  Together (NHT) pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar”.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi ini yaitu zaman modern yang penuh dengan kecanggihan baik itu ilmu pendidikan maupun teknologi yang berkembang pesat, kini menjadikan dunia semakin meningkat dengan adanya pendidikan yang semakin menarik perhatian. Sehingga pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan bangsa dan negara, Oleh karna itu, dunia pendidikan dituntut untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas pendidikannya. Adapun salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Usaha meningkatkan kualitas pendidikan guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar perlu pemahaman yang lebih luas.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.   

Dunia pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia, kehadiran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya di tingkat Sekolah Dasar memiliki peranan sangat penting terutama dalam ilmu  yang lebih menekankan pada hubungan manusia dan lingkungannya. Begitu pentingnya peranan IPS dalam kehidupan sehari-hari berbanding terbalik dengan respon yang diberikan oleh murid pada mata pelajaran ini. Setiap pembelajaran berkelompok murid hanya mengandalkan salah satu anggota kelompoknya untuk mengerjakan tugas kelompoknya. Sehingga hanya salah satu anggota kelompok yang menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Timbulnya masalah ini disebabkan oleh pertama, kurangnya pemahaman murid pada pentingnya mata pelajaran IPS dan apa tujuan sebenarnya. Menurut Mortell (Yaba, 2009: 14)
Tujuan pendidikan IPS adalah pembelajaran yang lebih  menekankan pada aspek “pendidikan” daripada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran IPS murid diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkannya dan melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya

Penyebab yang kedua adalah guru hanya berfokus pada meteri tanpa memperhatikan tingkat keberhasilan individu murid, kurang menguasai model-model pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tidak melibatkan semua murid dalam kegiatan proses pembelajaran yang akhirnya membuat murid kurang memahami pelajaran yang diberikan oleh guru dan murid merasa bosan, kurang berpartisipasi dan acuh dalam kelas.
Salah satunya adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif khususnya pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT). Model ini sangat bagus dalam mengurangi rasa bosan murid dalam belajar IPS karena setiap murid mendapat nomor dan aktif dalam proses pembelajaran untuk mendapat giliran dalam menjawab pertanyaan. Jadi, murid merasa tidak ada yang diabaikan dalam proses belajar mengajar. Setiap murid merasa bertanggungjawab atas tugas yang diberikan, mereka terlatih dalam berdiskusi dan menyelesaikan suatu masalah bersama. Setiap murid akan memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru karena tidak menentukan ketua kelompok yang akan menjawab pertanyaan dari guru, melainkan setiap murid harus siap menjawab pertanyaan guru. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya maka peneliti akan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul:  “peningkatan hasil belajar IPS melalui model kooperatif tipe Number Head  Together (NHT) pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar”.

Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya  maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan model kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota makassar?
Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya maka pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah melakukan perbaikan terhadap proses belajar mengajar dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPS melalui model NHT. Model NHT melatih keberanian diri murid, kerjasama, partisipasi dan motivasi murid dimana setiap murid mendapat nomor, kemudian guru mengajukan pertanyaan dan murid memikirkan jawabannya secara berkelompok. Disinilah murid dilatih untuk bekerjasama dengan temannya. Setelah itu, guru memanggil nomor-nomor yang ada pada murid dan nomor yang dipanggil akan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Cara ini dapat membantu murid dalam memahami materi dan pada akhirnya hasil belajarnya akan meningkat.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model kooperatif tipe Number Head Together  (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS  pada Murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini adalah sebagai berikut:

Manfaat Teoretis
Bagi akademis atau lembaga,  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini  dapat dijadikan sebagai landasan teori pembelajaran IPS pada umumnya dan khususnya dalam peningkatan hasil belajar IPS  di Sekolah Dasar melalui penerapan model NHT.
Bagi peneliti selajutnya, sebagai bahan acuan dalam mengkaji permasalahan yang aktual.
Manfaat Praktis
Bagi murid, hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan murid lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Bagi guru, hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan guru mendapatkan pengalaman nyata dan dapat menggunakan secara langsung model NHT  dalam proses pembelajaran di kelas.
Bagi sekolah, dapat menjadi acuan untuk menetapkan kebijakan dalam pembelajaran dengan memperhatikan bagaimana kinerja guru harus lebih kreatif dalam mengajar.










KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together
Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif pada hakekatnya sama dengan kerja kelompok. Oleh karna itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif karna mereka telah beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan pembelajaran kooperatif. Cooperative berarti bekerjasama dan learning berarti belajar. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil murid yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Slavin (Komalasari, 2010: 62) mendefenisikan bahwa:
Pembelajaran kooperatif adalah suatu staregi pembelajaran di mana murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 2-5 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kempuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.  

Sementara itu, Rusman (2012: 202) menjelaskan bahwa:

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya terdiri empat sampai enam dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah mendasarkan pada suatu ide bahwa murid bekerjasama dalam belajar kelompok dan sekaligus masing-masing bertanggung jawab pada aktivitas belajar anggota kelompoknya, sehingga seluruh anggota kelompok dapat menguasai materi pelajaran dengan baik.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran  kooperatif merupakan sebuah kelompok stategi pengajaran yang melibatkan murid bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama Eggen and Kauchak (Trianto, 2007: 42) pendekatan kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi murid, memfasilitasi murid dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada murid untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama  murid yang berbeda latar belakangnya.
Sementara itu menurut Slavin (Muslimin, 2009: 177) tujuan model pembelajaran kooperatif terdiri dari (a) hasil belajar akademik; (b) penerimaan terhadap perbedaan individu; (c) pengembangan keterampilan sosial; dan                  (d) lingkungan belajar dan sistem pengelolaan. Dari keempat tujuan pembelajaran tersebut diuraikan sebagai berikut.
Hasil belajar akademik yaitu struktur penghargaan pada pembelajaran kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian pebelajar pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan dengan hasil belajar.
Penerimaan terhadap perbedaan individu yaitu penerimaan terhadap orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, maupun kemampuanya.
Pengembangan keterampilan sosial yaitu mengajarkan kepada pebelajar keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif pebelajar dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana membelajarkanya.
Berdasarkan dari beberapa devinisi di atas, maka disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang di arahkan memungkinkan belajar dalam memecahkan masalah bersama-sama atau berkolaborasi secara demokratis tanpa memandang prestasi, etnik, jenis kelamin dan sebagainya untuk mencapai hasil yang maksimal. 
Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson (Rusman, 2012: 212) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:
Prinsip ketergantungan positif, yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
Tanggung jawab perseorangan, yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
Interaksi tatap muka, yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling meberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.

Partisipasi dan komunikasi, yaitu melatih murid untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok  untuk   mengevaluasi  proses  kerja  kelompok  dan  hasil  kerja  sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

Berdasarkan lima unsur pembelajaran kooperatif di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran di mana murid belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran.
Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together
Numbered Heads Together atau penomoran berpikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi murid dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Numbered Heads Togethar pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan (Trianto, 2007: 82) untuk melibatkan lebih banyak murid dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Menurut Kagen (Mappasoro, 2011: 92) mengemukakan:
Numbered Heads Togethar merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada penciptaan struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi murid untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan dimaksudkan sebagai salah satu alternatif dari berbagai struktur yang lebih tradisional yang digunakan selama ini.

Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Togethar merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang dengan maksud melibatkan murid dalam mereview bahan yang tercangkup dalam suatu pelajaran dan mengecek (memeriksa) sejuh mana pemahaman murid mengenai isi pelajaran tersebut.
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heards Together atau disebut kepala bernomor menurut Spencer Kagen (Riyanto, 2010: 273) yaitu:
“1. Murid dibagi dalam kelompok, setiap murid dalam setiap kelompok    mendapat nomor.
Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya.
Guru memanggil salah satu nomor murid dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka
Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
Kesimpulan.”

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah dari model pembelajaran Number Head Together yaitu, murid dibagi kelompok dan setiap murid mendapat nomor, guru mengajukan pertanyaan, pertanyaan tersebut didiskusikan dan  setiap anggota kelompok harus mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, guru memanggil nomor tertentu dan nomor yang dipanggil menjawab,murid yang lain memberi tanggapan. Langkah terakhir yaitu kesimpulan.
Kelebihan dan Kekurangan Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
Menurut Herdi (2009: 3) Numbered Heads Together memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain:
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
Memperbaiki kehadiran
Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
Perilaku mengganggu lebih kecil
Konflik antara pribadi berkurang
Pemahaman yang lebih mendalam
Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Hasil belajar lebih tinggi
Nilai-nilai kerja sama antar murid lebih teruji
Kreatifitas murid termotivasi dan wawasan murid berkembang, karena mereka harus mencari informasi dari berbagai sumber
Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
Setiap model dan metode yang kita pilih, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Salah satu kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together adalah kelas cenderung jadi ramai dan jika guru tidak dapat mengkondisikan dengan baik, keramaian itu dapat menjadi tidak terkendalikan. Sehingga mengganggu proses belajar mengajar, tidak hanya di kelas sendiri,tetapi bisa juga mengganggu ke kelas lain. Terutama untuk kelas-kelas dengan jumlah murid yang lebih dari 35 orang.
Hasil Belajar
Pengertian Hasil Belajar
Batasan tentang pengertian belajar yang dikemukakan para ahli tidak sama. Hal ini disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang masing-masing. Namun perbedaan tersebut tidak mengakibatkan adanya pertentangan, melainkan justru saling melengkapi dan menunjukkan luasnya aspek yang dibahas yang erat hubungannya dengan belajar.
Menurut Djamarah (2002: 13) mengatakan bahwa:
Hasil belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor. Seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dari tidak mampu mengerjakan menjadi mampu mengerjakannya. Kegiatan dan usaha untuk mencapai kegiatan tingkat laku itu merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar.

Berdasarkan definisi di atas dapat di simpulan bahwa hasil belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan berupa tindakan-tindakan yang tampak oleh mata maupun yang tidak tampak, sehingga diperoleh pengetahuan yang baru dan suatu    usaha   untuk   mencapai    perubahan  dalam tingkah   laku, dimana  perubahan itu  terjadi  melalui individu interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan pengetahuan baru. 

Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut (Riyanto, 2010: 8) dalam proses pembelajaran, hasil belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu “faktor dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern)”. Kedua faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Faktor dalam (intern) yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dalam diri murid yang sedang belajar:
Kondisi fisiologis seperti: Keadaan jasmani, keadaan gizi, kondisi panca indra, keutuhan anggota badan.
Kondisi psikologis seperti: Kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.
Faktor dari luar (ekstern) yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar berasal dari luar diri murid :
Faktor Lingkungan
Lingkungan alam seperti: Suhu udara, kelembaban udara, cuaca, musim, dan kejadian-kejadian alam yang ada.
Lingkungan sosial seperti: Hubungan anak dan orang tua dalam keluarga dan kebisingan yang disebabkan oleh tempat tinggal yang dekat dengan pabrik, pasar, keramaian lalu lintas.
Faktor instrumen yaitu faktor yang menggunakan rancangan untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan.

Hakikat Pembelajaran IPS
Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang di organisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi.
Departemen P dan K RI (Yaba, 2009: 4) menyatakan bahwa:
IPS merupakan terjemahan dari studi sosial (social studies) yang mulai diterapkan dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat sejak tahun 1915 setelah perang dunia pertama. IPS adalah suatu bidang studi yang merupakan paduan sejumlah mata pelajaran sosial.

Disamping itu pula Ischak, S.U., dkk (Yaba, 2006: 7) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran IPS bukan sekedar menyodorkan serentetan konsep-konsep saja, melainkan kemampuan guru dan murid menarik nilai/arti yang terkandung dalam konsep, serta bagaimana cara menerapkannya. Peran guru sebagai perencana dan pelaksana kegiatan belajar dan mengajar sangat penting dan keterlibatan atau keikutsertaan secara aktif kedua belah pihak yaitu guru dan murid akan mewarnai kegiatan belajar mengajar yang diharapkan.

Sedangkan menurut Nu’man soemantri (Amir, 2008: 1) mengemukakan pengertian IPS adalah pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan atau diorganisir/diajarkan secara pedagogik dan psikologis untuk tujuan pengajaran/pendidikan. Kata disederhanakan mengandung arti menurunkan menurunkan tingkat kesukaran materi ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di Universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berpikir anak di SD.
Dari beberapa pendapat tesebut dapat ditarik kesimpulan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang diseleksi dari beberapa bidang ilmu-ilmu sosial berdasarkan tingkat kognitif dan sesuai dengan taraf perkembangan pengetahuan subjek didik.
Tujuan Pembelajaran IPS
IPS adalah telaah tentang manusia dan lingkungan, manusia selalu hidup bersama dengan sesamanya.  Brank, dkk (Amir, 2008: 2) mengemukakan tujuan IPS adalah untuk menyiapkan para murid untuk dapat menjadi warga negara yang baik. Namun Barr dan Shermis  (Amir, 2008: 2) menunjukan bahwa sebenarnya bukan hanya satu telaah melainkan ada tiga yakni:
(1) Pewaris budaya yang menurut mereka bersifat indokrinatif dalam menyampaikan bahan pengajaran; (2) Tradisi ilmu sosial, yang merujuk pada pengertian bahwa IPS sebenarnya dapat diturunkan dari salah satu ilmu sosial yang sifatnya reduktif; dan  (3) Inkuiri reflektif yang didasarkan pada pemikiran refleksi dalam tradisi ini tercermin kemampuan murid memecahkan masalah dalam suasana lingkungan yang sarat nilai.

Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tercantum bahwa tujuan IPS adalah:
Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa cakupan IPS sangat luas, tidak selalu pendidikan sosial yang mengacu kepada keseluruhan kehidupan interpersonal murid, yang meliputi pengajaran sosial yang dialami murid diluar sekolah.

Kerangka Pikir
Masalah penelitian ini adalah hasil belajar IPS Kelas IV di SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar masih belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang disebabkan dari aspek guru yang hanya berfokus dengan materi tanpa memperhatikan tingkat keberhasilan individu murid, kurang menguasai model-model pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tidak melibatkan semua murid dalam kegiatan proses pembelajaran yang akhirnya membuat murid kurang memahami pelajaran yang diberikan oleh guru dan murid merasa bosan, kurang berpartisipasi dan acuh dalam kelas.
Pemilihan model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengoptimalisasi prestasi akademik murid dimana salah satu model pembelajaran yang efektif digunakan yaitu  Model pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together. Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir tersebut dituangkan ke dalam bagan berikut:














Gambar 1. Skema kerangka pikir penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian kerangka pikir di atas, maka hipotesis tindakan yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah Jika model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dilaksanakan pada mata pelajaran IPS maka hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dapat meningkat.
III.   METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sukmadinata (Iskandar, 2008: 29) mengemukakan bahwa:
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan, mengungkapkan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh data hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dan bertujuan untuk mengungkapkan hasil penelitian sesuai dengan fakta dan data yang diperoleh di lapangan. Secara garis besar, langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan kelas meliputi empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini dilaksanakan pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar terkait dengan dua aspek yaitu:
Model Numbered Head Together adalah variasi diskusi kelompok yang menggunakan kepala bernomor. Memperhatikan aktifitas guru dalam menerapkan model NHT pada kelas IV .
Hasil Belajar merupakan perubahan yang dicapai murid yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran.
Setting dan Subjek Penelitian
Setting penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini yaitu guru dan murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dengan jumlah murid akhir  sebanyak 27 orang yang terdiri dari 14 orang murid laki-laki dan 13 orang murid perempuan yang terdaftar pada tahun ajaran 2014 dengan sasaran utama meningkatkan hasil belajar IPS melalui Model Kooperatif NHT.

Rancangan Tindakan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitain ini adalah penelitian tindakan kelas. Hal ini didasarkan pada masalah yang akan dipecahkan berasal dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.



Adapun skema dari model penelitian ini, yaitu sebagai berikut:







Gambar  2. Alur Penelitian Tindakan Kelas (Suyadi, 2010)
Adapun penjelasan dari skema di atas, yaitu sebagai berikut:
Gambaran Siklus I
Sesuai dengan tahap yang harus diikuti dalam siklus I,  maka prosedur kegiatan siklus I dalam menyajikan bahan pelajaran melalui penerapan model NHT adalah sebagai berikut:
Tahap Perencanaan

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Membuat media pembelajaran
Membuat lembar kerja murid
Membuat lembar observasi untuk mengetahui bagaimana kondisi kegiatan pembelajaran di kelas baik guru maupun murid
Membuat alat evaluasi pembelajaran
Tahap Tindakan
Untuk tahap ini peneliti dapat bekerjasama dengan guru kelas, mulai dari pelaksanaan tindakan yakni dengan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tahap perencanaan yang telah disusun sebelumnnya. Dimana guru melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Dengan tujuan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang belum sesuai dengan yang diharapkan.
Tahap Observasi
Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran melalui model Numbered head Together (NHT) yaitu mengamati aktifitas murid dan guru dengan menggunakan lembar observasi yang dilakukan oleg guru kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan tamalanrea Kota Makassar.
Tahap Refleksi
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari setiap siklus. Dimana pada tahap ini, hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil analisis tersebut dilakukan refleksi untuk mengetahui hal-hal yang masih kurang atau yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran. Jika hasil yang dicapai pada siklus I (pertama) belum mencapai indikator yang telah direncanakan yaitu (70%), maka akan didiskusikan bersama guru tentang alternatif pemecahan selanjutnya, sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan.
Gambaran Siklus II
Siklus II dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Tes akhir siklus II dilaksanakan pada pertemuan terakhir. Materi yang dibahas pada siklus II adalah materi lanjutan dari siklus I.  Siklus II merupakan langkah lanjutan dari siklus satu. Tindakan-tindakan yang diambil pada siklus II, berpatokan dari refleksi pada siklus I, didiagnosa kemudian dicari solusi terbaik yang akan diterapkan pada siklus II. Beberapa hal terpenting yang akan dilakukakan dalam siklus II ini antara lain, sebagai berikut:
Mengumpulkan informasi dari hasil yang diperoleh selama siklus I
Mengulangi prosedur pada siklus I dengan beberapa perbaikan berdasarkan tanggapan murid.
Memberi refleksi lanjutan tentang hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
Memperhatikan dengan sangat mendalam refleksi yang telah dibuat sebelum membuat laporan akhir.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian tindakan kelas ini, adalah:

Observasi
Melalui observasi ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran IPS dan seluruh aktifitas murid selama proses pembelajaran IPS berlangsung melalui penerapan model Numbered Head Together.
Tes
Tes merupakan alat yang dilakukan guru kepada murid untuk mengetahui hasil belajar IPS murid kelas IV melalui penerapan model Numbered Head Together. Tes diberikan pada tiap siklus dalam bentuk essai.
Dokumentasi
Dokumentasi ini dilakukan  dengan cara mengumpulkan data tertulis dari sekolah mengenai data hasil belajar IPS, proses kegiatan hasil belajar mengajar dan jumlah murid pada kelas IV SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan
Teknik Analisis Data
Analisis ini memberikan gambaran tentang data yang dianalisis seperti butir-butir tes yang dipakai dalam penelitian telah memenuhi validitas, sebagian besar data telah dikonfirmasikan kepada responden dan sebagainya dan dipilih untuk menguji perbedaan skor rata-rata atau rerata,baik perbedaan dua kelompok maupun lebih,mengetahui hubungan (korelasi), melihat sumbangan,dan sebagainya. (Punaji Setyosari, : 2010).

Indikator Keberhasilan
Dalam indikator proses ini diamati melalui observasi yang dilaksanakan oleh peneliti untuk melihat langsung proses pembelajaran, sedangkan dalam indikator hasil dapat dilihat melalui peningkatan hasil belajar yang telah dicapai terutama pada hasil belajar IPS dengan menerapkan model belajar Numbered Head Together berdasarkan Kriteria  ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan adalah 67 maka kelas dianggap tuntas secara klasikal. Penerapan Model pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Head Together dikatakan berhasil apabila 80% murid memperoleh  ≥ 67 untuk mata pelajaran IPS.
Adapun kriteria yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan murid adalah sesuai dengan kriteria standar yang dikemukakan SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar, yaitu:
Tabel 3.1 Indikator keberhasilan menurut Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional (SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar).
Tarif
KebersihanKualifikasi  86 – 100%Baik Sekali (BS)71 – 85%Baik (B)56 – 70%Cukup (C)41 – 55%Kurang (K)  0 – 40%Kurang Sekali (KS)

Jadwal Penelitian

NoJenis Kegiatan       Waktu Efektif Pelaksanaan Tindakan Kelas       I      II     III     IV      V12341234123412341234A.Persiapan Umum1. Observasi di SD2. Penyusunan proposal3. Pengembangan
    Instrument4. Pelaksanaan seminar                  Proposal 5. Perizinan6. Pertemuan dengan pihak sekolahB.Pelaksanaan PTK1. Pelaksanaan siklus I2. Penyusunan draft Laporan siklus I3. Pelaksanaan siklus II4. Penyusunan draft Laporan siklus II5. Penyempurnaan akhir laporanC.Evaluasi Hasil PTK1. Seminar hasil PTK2. Perbaikan skripsi 3. Ujian meja skripsi4. Revisi dan pengadaan skripsi5. Pengumpulan skripsi

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI. Jakarta : BNSP.

Djamarah, Saiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Herdi. 2009. Model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together), (Online), Http//herdy07.wordpress.com (diakses tanggal 13/1/2014).

Iskandar. 2008. Metode Pendidikan dan Sosial (kualitatif dan kuantitatif). Jakarta: Yogyakarta

Komalasari, kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual (Konsep dan Aplikasi). Bandung: PT. Refika Aditama.

Mappasoro. 2011. Strategi Pembelajaran. Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan  Universitas Negeri Makassar

Muslimin, dkk. 2009. Pendidikan dan latihan profesi, guru modul SD PSG rayon 24. UNM.

Satyosari Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: RENCANA PRENADA MEDIA GROUP.

Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesional Guru, Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Suyadi. 2010. Paduan Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta:  Diva Press.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik. Surabaya: Prestasi pustaka.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Cemerlang.

Yaba, dkk. 2009. Buku Ajar Materi Pendidikan IPS DI SD, Makassar : Fakulitas Ilmu Pendidikan UNM.












Komentar