Minggu, 25 Oktober 2015

penerapan model kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota makassar

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi ini yaitu zaman modern yang penuh dengan kecanggihan baik itu ilmu pendidikan maupun teknologi yang berkembang pesat, kini menjadikan dunia semakin meningkat dengan adanya pendidikan yang semakin menarik perhatian. Sehingga pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan bangsa dan negara, Oleh karna itu, dunia pendidikan dituntut untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas pendidikannya. Adapun salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Usaha meningkatkan kualitas pendidikan guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar perlu pemahaman yang lebih luas.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.   

Dunia pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia, kehadiran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya di tingkat Sekolah Dasar memiliki peranan sangat penting terutama dalam ilmu  yang lebih menekankan pada hubungan manusia dan lingkungannya. Begitu pentingnya peranan IPS dalam kehidupan sehari-hari berbanding terbalik dengan respon yang diberikan oleh murid pada mata pelajaran ini. Setiap pembelajaran berkelompok murid hanya mengandalkan salah satu anggota kelompoknya untuk mengerjakan tugas kelompoknya. Sehingga hanya salah satu anggota kelompok yang menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Timbulnya masalah ini disebabkan oleh pertama, kurangnya pemahaman murid pada pentingnya mata pelajaran IPS dan apa tujuan sebenarnya. Menurut Mortell (Yaba, 2009: 14)
Tujuan pendidikan IPS adalah pembelajaran yang lebih  menekankan pada aspek “pendidikan” daripada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran IPS murid diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkannya dan melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya

Penyebab yang kedua adalah guru hanya berfokus pada meteri tanpa memperhatikan tingkat keberhasilan individu murid, kurang menguasai model-model pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tidak melibatkan semua murid dalam kegiatan proses pembelajaran yang akhirnya membuat murid kurang memahami pelajaran yang diberikan oleh guru dan murid merasa bosan, kurang berpartisipasi dan acuh dalam kelas.
Salah satunya adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif khususnya pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT). Model ini sangat bagus dalam mengurangi rasa bosan murid dalam belajar IPS karena setiap murid mendapat nomor dan aktif dalam proses pembelajaran untuk mendapat giliran dalam menjawab pertanyaan. Jadi, murid merasa tidak ada yang diabaikan dalam proses belajar mengajar. Setiap murid merasa bertanggungjawab atas tugas yang diberikan, mereka terlatih dalam berdiskusi dan menyelesaikan suatu masalah bersama. Setiap murid akan memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru karena tidak menentukan ketua kelompok yang akan menjawab pertanyaan dari guru, melainkan setiap murid harus siap menjawab pertanyaan guru. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya maka peneliti akan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul:  “peningkatan hasil belajar IPS melalui model kooperatif tipe Number Head  Together (NHT) pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar”.

Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya  maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan model kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota makassar?
Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya maka pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah melakukan perbaikan terhadap proses belajar mengajar dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPS melalui model NHT. Model NHT melatih keberanian diri murid, kerjasama, partisipasi dan motivasi murid dimana setiap murid mendapat nomor, kemudian guru mengajukan pertanyaan dan murid memikirkan jawabannya secara berkelompok. Disinilah murid dilatih untuk bekerjasama dengan temannya. Setelah itu, guru memanggil nomor-nomor yang ada pada murid dan nomor yang dipanggil akan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Cara ini dapat membantu murid dalam memahami materi dan pada akhirnya hasil belajarnya akan meningkat.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model kooperatif tipe Number Head Together  (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS  pada Murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini adalah sebagai berikut:

Manfaat Teoretis
Bagi akademis atau lembaga,  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini  dapat dijadikan sebagai landasan teori pembelajaran IPS pada umumnya dan khususnya dalam peningkatan hasil belajar IPS  di Sekolah Dasar melalui penerapan model NHT.
Bagi peneliti selajutnya, sebagai bahan acuan dalam mengkaji permasalahan yang aktual.
Manfaat Praktis
Bagi murid, hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan murid lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Bagi guru, hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan guru mendapatkan pengalaman nyata dan dapat menggunakan secara langsung model NHT  dalam proses pembelajaran di kelas.
Bagi sekolah, dapat menjadi acuan untuk menetapkan kebijakan dalam pembelajaran dengan memperhatikan bagaimana kinerja guru harus lebih kreatif dalam mengajar.










KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together
Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif pada hakekatnya sama dengan kerja kelompok. Oleh karna itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif karna mereka telah beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan pembelajaran kooperatif. Cooperative berarti bekerjasama dan learning berarti belajar. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil murid yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Slavin (Komalasari, 2010: 62) mendefenisikan bahwa:
Pembelajaran kooperatif adalah suatu staregi pembelajaran di mana murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 2-5 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kempuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.  

Sementara itu, Rusman (2012: 202) menjelaskan bahwa:

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya terdiri empat sampai enam dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah mendasarkan pada suatu ide bahwa murid bekerjasama dalam belajar kelompok dan sekaligus masing-masing bertanggung jawab pada aktivitas belajar anggota kelompoknya, sehingga seluruh anggota kelompok dapat menguasai materi pelajaran dengan baik.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran  kooperatif merupakan sebuah kelompok stategi pengajaran yang melibatkan murid bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama Eggen and Kauchak (Trianto, 2007: 42) pendekatan kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi murid, memfasilitasi murid dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada murid untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama  murid yang berbeda latar belakangnya.
Sementara itu menurut Slavin (Muslimin, 2009: 177) tujuan model pembelajaran kooperatif terdiri dari (a) hasil belajar akademik; (b) penerimaan terhadap perbedaan individu; (c) pengembangan keterampilan sosial; dan                  (d) lingkungan belajar dan sistem pengelolaan. Dari keempat tujuan pembelajaran tersebut diuraikan sebagai berikut.
Hasil belajar akademik yaitu struktur penghargaan pada pembelajaran kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian pebelajar pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan dengan hasil belajar.
Penerimaan terhadap perbedaan individu yaitu penerimaan terhadap orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, maupun kemampuanya.
Pengembangan keterampilan sosial yaitu mengajarkan kepada pebelajar keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif pebelajar dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana membelajarkanya.
Berdasarkan dari beberapa devinisi di atas, maka disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang di arahkan memungkinkan belajar dalam memecahkan masalah bersama-sama atau berkolaborasi secara demokratis tanpa memandang prestasi, etnik, jenis kelamin dan sebagainya untuk mencapai hasil yang maksimal. 
Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson (Rusman, 2012: 212) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:
Prinsip ketergantungan positif, yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
Tanggung jawab perseorangan, yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
Interaksi tatap muka, yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling meberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.

Partisipasi dan komunikasi, yaitu melatih murid untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok  untuk   mengevaluasi  proses  kerja  kelompok  dan  hasil  kerja  sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

Berdasarkan lima unsur pembelajaran kooperatif di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran di mana murid belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran.
Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together
Numbered Heads Together atau penomoran berpikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi murid dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Numbered Heads Togethar pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan (Trianto, 2007: 82) untuk melibatkan lebih banyak murid dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Menurut Kagen (Mappasoro, 2011: 92) mengemukakan:
Numbered Heads Togethar merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada penciptaan struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi murid untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan dimaksudkan sebagai salah satu alternatif dari berbagai struktur yang lebih tradisional yang digunakan selama ini.

Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Togethar merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang dengan maksud melibatkan murid dalam mereview bahan yang tercangkup dalam suatu pelajaran dan mengecek (memeriksa) sejuh mana pemahaman murid mengenai isi pelajaran tersebut.
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heards Together atau disebut kepala bernomor menurut Spencer Kagen (Riyanto, 2010: 273) yaitu:
“1. Murid dibagi dalam kelompok, setiap murid dalam setiap kelompok    mendapat nomor.
Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya.
Guru memanggil salah satu nomor murid dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka
Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
Kesimpulan.”

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah dari model pembelajaran Number Head Together yaitu, murid dibagi kelompok dan setiap murid mendapat nomor, guru mengajukan pertanyaan, pertanyaan tersebut didiskusikan dan  setiap anggota kelompok harus mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, guru memanggil nomor tertentu dan nomor yang dipanggil menjawab,murid yang lain memberi tanggapan. Langkah terakhir yaitu kesimpulan.
Kelebihan dan Kekurangan Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
Menurut Herdi (2009: 3) Numbered Heads Together memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain:
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
Memperbaiki kehadiran
Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
Perilaku mengganggu lebih kecil
Konflik antara pribadi berkurang
Pemahaman yang lebih mendalam
Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Hasil belajar lebih tinggi
Nilai-nilai kerja sama antar murid lebih teruji
Kreatifitas murid termotivasi dan wawasan murid berkembang, karena mereka harus mencari informasi dari berbagai sumber
Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
Setiap model dan metode yang kita pilih, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Salah satu kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together adalah kelas cenderung jadi ramai dan jika guru tidak dapat mengkondisikan dengan baik, keramaian itu dapat menjadi tidak terkendalikan. Sehingga mengganggu proses belajar mengajar, tidak hanya di kelas sendiri,tetapi bisa juga mengganggu ke kelas lain. Terutama untuk kelas-kelas dengan jumlah murid yang lebih dari 35 orang.
Hasil Belajar
Pengertian Hasil Belajar
Batasan tentang pengertian belajar yang dikemukakan para ahli tidak sama. Hal ini disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang masing-masing. Namun perbedaan tersebut tidak mengakibatkan adanya pertentangan, melainkan justru saling melengkapi dan menunjukkan luasnya aspek yang dibahas yang erat hubungannya dengan belajar.
Menurut Djamarah (2002: 13) mengatakan bahwa:
Hasil belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor. Seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dari tidak mampu mengerjakan menjadi mampu mengerjakannya. Kegiatan dan usaha untuk mencapai kegiatan tingkat laku itu merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar.

Berdasarkan definisi di atas dapat di simpulan bahwa hasil belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan berupa tindakan-tindakan yang tampak oleh mata maupun yang tidak tampak, sehingga diperoleh pengetahuan yang baru dan suatu    usaha   untuk   mencapai    perubahan  dalam tingkah   laku, dimana  perubahan itu  terjadi  melalui individu interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan pengetahuan baru. 

Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut (Riyanto, 2010: 8) dalam proses pembelajaran, hasil belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu “faktor dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern)”. Kedua faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Faktor dalam (intern) yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dalam diri murid yang sedang belajar:
Kondisi fisiologis seperti: Keadaan jasmani, keadaan gizi, kondisi panca indra, keutuhan anggota badan.
Kondisi psikologis seperti: Kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.
Faktor dari luar (ekstern) yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar berasal dari luar diri murid :
Faktor Lingkungan
Lingkungan alam seperti: Suhu udara, kelembaban udara, cuaca, musim, dan kejadian-kejadian alam yang ada.
Lingkungan sosial seperti: Hubungan anak dan orang tua dalam keluarga dan kebisingan yang disebabkan oleh tempat tinggal yang dekat dengan pabrik, pasar, keramaian lalu lintas.
Faktor instrumen yaitu faktor yang menggunakan rancangan untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan.

Hakikat Pembelajaran IPS
Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang di organisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi.
Departemen P dan K RI (Yaba, 2009: 4) menyatakan bahwa:
IPS merupakan terjemahan dari studi sosial (social studies) yang mulai diterapkan dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat sejak tahun 1915 setelah perang dunia pertama. IPS adalah suatu bidang studi yang merupakan paduan sejumlah mata pelajaran sosial.

Disamping itu pula Ischak, S.U., dkk (Yaba, 2006: 7) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran IPS bukan sekedar menyodorkan serentetan konsep-konsep saja, melainkan kemampuan guru dan murid menarik nilai/arti yang terkandung dalam konsep, serta bagaimana cara menerapkannya. Peran guru sebagai perencana dan pelaksana kegiatan belajar dan mengajar sangat penting dan keterlibatan atau keikutsertaan secara aktif kedua belah pihak yaitu guru dan murid akan mewarnai kegiatan belajar mengajar yang diharapkan.

Sedangkan menurut Nu’man soemantri (Amir, 2008: 1) mengemukakan pengertian IPS adalah pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan atau diorganisir/diajarkan secara pedagogik dan psikologis untuk tujuan pengajaran/pendidikan. Kata disederhanakan mengandung arti menurunkan menurunkan tingkat kesukaran materi ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di Universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berpikir anak di SD.
Dari beberapa pendapat tesebut dapat ditarik kesimpulan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang diseleksi dari beberapa bidang ilmu-ilmu sosial berdasarkan tingkat kognitif dan sesuai dengan taraf perkembangan pengetahuan subjek didik.
Tujuan Pembelajaran IPS
IPS adalah telaah tentang manusia dan lingkungan, manusia selalu hidup bersama dengan sesamanya.  Brank, dkk (Amir, 2008: 2) mengemukakan tujuan IPS adalah untuk menyiapkan para murid untuk dapat menjadi warga negara yang baik. Namun Barr dan Shermis  (Amir, 2008: 2) menunjukan bahwa sebenarnya bukan hanya satu telaah melainkan ada tiga yakni:
(1) Pewaris budaya yang menurut mereka bersifat indokrinatif dalam menyampaikan bahan pengajaran; (2) Tradisi ilmu sosial, yang merujuk pada pengertian bahwa IPS sebenarnya dapat diturunkan dari salah satu ilmu sosial yang sifatnya reduktif; dan  (3) Inkuiri reflektif yang didasarkan pada pemikiran refleksi dalam tradisi ini tercermin kemampuan murid memecahkan masalah dalam suasana lingkungan yang sarat nilai.

Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tercantum bahwa tujuan IPS adalah:
Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa cakupan IPS sangat luas, tidak selalu pendidikan sosial yang mengacu kepada keseluruhan kehidupan interpersonal murid, yang meliputi pengajaran sosial yang dialami murid diluar sekolah.

Kerangka Pikir
Masalah penelitian ini adalah hasil belajar IPS Kelas IV di SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar masih belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang disebabkan dari aspek guru yang hanya berfokus dengan materi tanpa memperhatikan tingkat keberhasilan individu murid, kurang menguasai model-model pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tidak melibatkan semua murid dalam kegiatan proses pembelajaran yang akhirnya membuat murid kurang memahami pelajaran yang diberikan oleh guru dan murid merasa bosan, kurang berpartisipasi dan acuh dalam kelas.
Pemilihan model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengoptimalisasi prestasi akademik murid dimana salah satu model pembelajaran yang efektif digunakan yaitu  Model pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together. Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir tersebut dituangkan ke dalam bagan berikut:














Gambar 1. Skema kerangka pikir penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian kerangka pikir di atas, maka hipotesis tindakan yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah Jika model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dilaksanakan pada mata pelajaran IPS maka hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dapat meningkat.
III.   METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sukmadinata (Iskandar, 2008: 29) mengemukakan bahwa:
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan, mengungkapkan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh data hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dan bertujuan untuk mengungkapkan hasil penelitian sesuai dengan fakta dan data yang diperoleh di lapangan. Secara garis besar, langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan kelas meliputi empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini dilaksanakan pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar terkait dengan dua aspek yaitu:
Model Numbered Head Together adalah variasi diskusi kelompok yang menggunakan kepala bernomor. Memperhatikan aktifitas guru dalam menerapkan model NHT pada kelas IV .
Hasil Belajar merupakan perubahan yang dicapai murid yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran.
Setting dan Subjek Penelitian
Setting penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini yaitu guru dan murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dengan jumlah murid akhir  sebanyak 27 orang yang terdiri dari 14 orang murid laki-laki dan 13 orang murid perempuan yang terdaftar pada tahun ajaran 2014 dengan sasaran utama meningkatkan hasil belajar IPS melalui Model Kooperatif NHT.

Rancangan Tindakan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitain ini adalah penelitian tindakan kelas. Hal ini didasarkan pada masalah yang akan dipecahkan berasal dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.



Adapun skema dari model penelitian ini, yaitu sebagai berikut:







Gambar  2. Alur Penelitian Tindakan Kelas (Suyadi, 2010)
Adapun penjelasan dari skema di atas, yaitu sebagai berikut:
Gambaran Siklus I
Sesuai dengan tahap yang harus diikuti dalam siklus I,  maka prosedur kegiatan siklus I dalam menyajikan bahan pelajaran melalui penerapan model NHT adalah sebagai berikut:
Tahap Perencanaan

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Membuat media pembelajaran
Membuat lembar kerja murid
Membuat lembar observasi untuk mengetahui bagaimana kondisi kegiatan pembelajaran di kelas baik guru maupun murid
Membuat alat evaluasi pembelajaran
Tahap Tindakan
Untuk tahap ini peneliti dapat bekerjasama dengan guru kelas, mulai dari pelaksanaan tindakan yakni dengan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tahap perencanaan yang telah disusun sebelumnnya. Dimana guru melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Dengan tujuan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang belum sesuai dengan yang diharapkan.
Tahap Observasi
Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran melalui model Numbered head Together (NHT) yaitu mengamati aktifitas murid dan guru dengan menggunakan lembar observasi yang dilakukan oleg guru kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan tamalanrea Kota Makassar.
Tahap Refleksi
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari setiap siklus. Dimana pada tahap ini, hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil analisis tersebut dilakukan refleksi untuk mengetahui hal-hal yang masih kurang atau yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran. Jika hasil yang dicapai pada siklus I (pertama) belum mencapai indikator yang telah direncanakan yaitu (70%), maka akan didiskusikan bersama guru tentang alternatif pemecahan selanjutnya, sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan.
Gambaran Siklus II
Siklus II dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Tes akhir siklus II dilaksanakan pada pertemuan terakhir. Materi yang dibahas pada siklus II adalah materi lanjutan dari siklus I.  Siklus II merupakan langkah lanjutan dari siklus satu. Tindakan-tindakan yang diambil pada siklus II, berpatokan dari refleksi pada siklus I, didiagnosa kemudian dicari solusi terbaik yang akan diterapkan pada siklus II. Beberapa hal terpenting yang akan dilakukakan dalam siklus II ini antara lain, sebagai berikut:
Mengumpulkan informasi dari hasil yang diperoleh selama siklus I
Mengulangi prosedur pada siklus I dengan beberapa perbaikan berdasarkan tanggapan murid.
Memberi refleksi lanjutan tentang hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
Memperhatikan dengan sangat mendalam refleksi yang telah dibuat sebelum membuat laporan akhir.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian tindakan kelas ini, adalah:

Observasi
Melalui observasi ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran IPS dan seluruh aktifitas murid selama proses pembelajaran IPS berlangsung melalui penerapan model Numbered Head Together.
Tes
Tes merupakan alat yang dilakukan guru kepada murid untuk mengetahui hasil belajar IPS murid kelas IV melalui penerapan model Numbered Head Together. Tes diberikan pada tiap siklus dalam bentuk essai.
Dokumentasi
Dokumentasi ini dilakukan  dengan cara mengumpulkan data tertulis dari sekolah mengenai data hasil belajar IPS, proses kegiatan hasil belajar mengajar dan jumlah murid pada kelas IV SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan
Teknik Analisis Data
Analisis ini memberikan gambaran tentang data yang dianalisis seperti butir-butir tes yang dipakai dalam penelitian telah memenuhi validitas, sebagian besar data telah dikonfirmasikan kepada responden dan sebagainya dan dipilih untuk menguji perbedaan skor rata-rata atau rerata,baik perbedaan dua kelompok maupun lebih,mengetahui hubungan (korelasi), melihat sumbangan,dan sebagainya. (Punaji Setyosari, : 2010).

Indikator Keberhasilan
Dalam indikator proses ini diamati melalui observasi yang dilaksanakan oleh peneliti untuk melihat langsung proses pembelajaran, sedangkan dalam indikator hasil dapat dilihat melalui peningkatan hasil belajar yang telah dicapai terutama pada hasil belajar IPS dengan menerapkan model belajar Numbered Head Together berdasarkan Kriteria  ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan adalah 67 maka kelas dianggap tuntas secara klasikal. Penerapan Model pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Head Together dikatakan berhasil apabila 80% murid memperoleh  ≥ 67 untuk mata pelajaran IPS.
Adapun kriteria yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan murid adalah sesuai dengan kriteria standar yang dikemukakan SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar, yaitu:
Tabel 3.1 Indikator keberhasilan menurut Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional (SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar).
Tarif
KebersihanKualifikasi  86 – 100%Baik Sekali (BS)71 – 85%Baik (B)56 – 70%Cukup (C)41 – 55%Kurang (K)  0 – 40%Kurang Sekali (KS)

Jadwal Penelitian

NoJenis Kegiatan       Waktu Efektif Pelaksanaan Tindakan Kelas       I      II     III     IV      V12341234123412341234A.Persiapan Umum1. Observasi di SD2. Penyusunan proposal3. Pengembangan
    Instrument4. Pelaksanaan seminar                  Proposal 5. Perizinan6. Pertemuan dengan pihak sekolahB.Pelaksanaan PTK1. Pelaksanaan siklus I2. Penyusunan draft Laporan siklus I3. Pelaksanaan siklus II4. Penyusunan draft Laporan siklus II5. Penyempurnaan akhir laporanC.Evaluasi Hasil PTK1. Seminar hasil PTK2. Perbaikan skripsi 3. Ujian meja skripsi4. Revisi dan pengadaan skripsi5. Pengumpulan skripsi

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI. Jakarta : BNSP.

Djamarah, Saiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Herdi. 2009. Model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together), (Online), Http//herdy07.wordpress.com (diakses tanggal 13/1/2014).

Iskandar. 2008. Metode Pendidikan dan Sosial (kualitatif dan kuantitatif). Jakarta: Yogyakarta

Komalasari, kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual (Konsep dan Aplikasi). Bandung: PT. Refika Aditama.

Mappasoro. 2011. Strategi Pembelajaran. Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan  Universitas Negeri Makassar

Muslimin, dkk. 2009. Pendidikan dan latihan profesi, guru modul SD PSG rayon 24. UNM.

Satyosari Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: RENCANA PRENADA MEDIA GROUP.

Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesional Guru, Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Suyadi. 2010. Paduan Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta:  Diva Press.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik. Surabaya: Prestasi pustaka.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Cemerlang.

Yaba, dkk. 2009. Buku Ajar Materi Pendidikan IPS DI SD, Makassar : Fakulitas Ilmu Pendidikan UNM.








Selasa, 20 Oktober 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DALAM MATA PELAJARAN PKn UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MURID KELAS V SD INPRES BTN IKIP I






PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DALAM
MATA PELAJARAN PKn UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MURID KELAS V SD INPRES BTN IKIP I MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar  Sarjana Pendidikan pada Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar Strata Satu  Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Makassar

Oleh
WISNAH
0747241402

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2010
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini dengan judul ” Penerapan Model Pembelajaran Role Playing Dalam Mata Pelajaran PKn Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Murid Kelas V SD IKIP I Makassar ”.
Atas nama :
Nama  : WISNAH
NIM  : 0747241402
Prodi  : PGSD
Fakultas   : Ilmu Pendidikan
Setelah diperiksa dan di teliti, telah memenuhi syarat untuk diujikan.
Makassar   April 2010
Disetujui oleh:
Komisi Pembimbing
Pembimbing I        Pembimbing II

Dra. Hj. Nurbaya Kaco, M.Si          Drs. H. Alimin Umar, M.Pd
NIP : 1948 0401 198003 2 001        NIP : 1952 1020 198003 1 001
                     

Disahkan oleh:
Ketua Prodi PGSD FIP UNM,

Drs. Muslimin, M.Ed
Nip. 19610224 198703 1 003

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama          :  WISNAH
NIM          :  0747241402
Prodi          :  PGSD
Fakultas         :  Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi  :Penerapan Model Pembelajaran Role Playing Dalam Mata Pelajaran PKn Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Murid Kelas V SD IKIP I Makassar
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar merupakan hasil karya sendiri dan bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran sendiri
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
      Makassar  Maret 2010
                                                Yang Membuat Pernyataan

WISNAH

MOTTO

Jangan pernah berkecil hati dalam menjalani kehidupan
walaupun perjalanan yang dituju masih jauh dan melelahkan
hiduplah dengan penuh optimis
dan tak mudah untuk menyerah

Mulailah usaha dengan keyakinan
Iringilah keyakinan itu dengan ikhtiar
Dan barengilah dengan doa
“Tiada kata terlambat untuk meraih kesuksesan”

Kupersembahkan karya ini buat Ayah Bundaku tercinta, berkat iringan doa tulus darinya yang menyertai ananda, serta buat saudara-sudaraku tersayang hanya kepada Allah SWT aku bersujud dan bersyukur.
ABSTRAK

Yusnita 2010. Penerapan Model Pembelajaran Role Playing Dalam Mata Pelajaran PKn Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Murid Kelas V SD IKIP I Makassar. Skripsi. Dra. Hj. Nurbaya Kaco, M.Si  dan Drs. H. Alimin                   Umar, M.Pd,  Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.

Masalah pokok penelitian apakah dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Role Playing dalam mata pelajaran Pkn dapat meningkatkan aktivitas belajar murid kelas V SD IKIP I Makassar ?. Tujuan penelitian untuk meningkatkan aktivitas belajar murid dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan Role Playing kelas V SD IKIP I Makassar.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan fokus penelitian adalah hasil belajar dan penerapan pendekatan Role Playing. Setting penelitian adalah siswa V SD IKIP I Makassar sebanyak 37 orang. Pengumpulan data dengan teknik observasi, tes dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan selama dan sesudah pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil pengamatan, wawancara dengan indikator-indikator pada tahap refleksi dari siklus penelitian. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk matriks tabulasi.
Hasil penelitian dikemukakan bahwa pada pelaksanaan siklus I sekitar 42 persen siswa yang memperoleh nilai 7 ke atas. Yang berarti hasil belajar yang dicapai belum mencapai target siswa yang direncanakan yakni 70 persen  ke atas sedangkan pada pelaksanaan siklus II 100 persen siswa telah mencapai hasil belajar 70 persen ke atas.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah melalui pendekatan Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran PKn di kelas V SD IKIP I Makassar. Serta nilai pembelajaran PKn mengalami peningkatan
PRAKATA
Puji syukur kepada Allah SWT atas berkat, rahmat dan kesempatan yang Dia berikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi dan memperoleh gelar, dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Role Playing Dalam Mata Pelajaran PKn Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Murid Kelas V SD IKIP I Makassar.” sebagai tugas akhir untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar.
Diawali dengan doa dan sebentuk perjuangan memulai studi hingga penyusunan tugas akhir dengan melewati berbagai kendala, semua memberikan pengalaman tersendiri bagi penulis. Pengalaman ini menjadi tenaga pendorong bagi penulis untuk meraih cita-cita.
Penulis mencurahkan segala kemampuan dalam menyelesaikan skripsi ini, tetapi lepas dari semua itu ternyata tidak luput dari berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan, mengingat penulis masih dalam tahap belajar, namun inilah hasil maksimal yang dapat penulis berikan.
Banyak hambatan yang dihadapi dalam penyusunan skripsi ini. Namun berkat petunjuk, usaha, arahan dan bimbingan yang diberikan oleh berbagai pihak, maka segala hambatan tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati perkenankanlah pada kesempatan ini menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Dra. Hj. Nurbaya Kaco, M.Si, pembimbing I dan Bapak Drs. H. Alimin Umar, M.Pd pembimbing II yang rela meluangkan waktunya untuk memberikan petunjuk dan bimbingan serta saran-saran sejak penyusunan rancangan penelitian sampai selesainya skripsi ini. Selanjutnya ucapan terima kasih ditujukan kepada :.
Bapak Prof. DR. H. Arismunandar, M.Pd. Rektor Universitas Negeri Makassar yang telah menampung kami untuk melanjutkan pendidikan khsususnya penyetaraan S1 PGSD FIP UNM.
Bapak Dr. Ismail Tolla, M.Pd selaku Dekan FIP UNM yang yang telah menampung kami untuk melanjutkan pendidikan khsususnya penyetaraan S1 PGSD FIP UNM.
Ibu Hj. Yassena, S.Pd selaku kepala SD IKIP I Makassar yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian dan kerjasamanya selama penulis mengadakan penelitian.
Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar atas segala ilmu dan bimbingannya selama ini, serta seluruh staf pegawai administrasi atas segala pelayanan yang telah diberikannya selama penulis menempuh studi di Fakultas Ilmu Pendidikan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Makassar.
Teristimewa kepada ayahanda dan ibunda serta saudara-saudaraku tercinta atas belas kasihnya, pengorbanan yang tiada henti baik material maupun dukungan moril dan yang paling penting adalah doa restunya yang senantiasa menjadi sumber motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar khususnya kelas masamba yang sementara dalam penyelesaian studi.
Semoga segala  bantuan, dukungan dan bimbingan yang telah diberikan mendapat pahala dan rahmat dari Allah SWT. Dan akhirnya penulis berharap kiranya skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang memerlukannya.
        Makassar  April  2010

    P e n u l i s
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI iii
MOTTO iv
ABSTRAK v
PRAKATA vi
DAFTAR ISI ix
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
BAB I.PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Perumusan dan Pemecahan Masalah 5
Tujuan Penelitian 6
Manfaat Hasil Penelitian 7
BAB II.KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN
HIPOTESI TINDAKAN 9
Kajian Pustaka 9
Kerangka Pikir 30
Hipotesis 31

BAB III.METODE PENELITIAN 32
Pendekatan dan Jenis Penelitian 32
Setting dan Subyek Penelitian32
Fokus Penelitian33
Prosedur penelitian 33
Teknik Pengumpulan Data 37
Tehnik Analisa Data 37
Indikator Keberhasilan 38
BAB IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 39
Deskripsi Penelitian39
Paparan Data40
Pembahasan51
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 56
Kesimpulan 56
Saran 56
DAFTAR PUSTAKA 57
LAMPIRAN 59
RIWAYAT HIDUP



DAFTAR GAMBAR
NomorJudul            Halaman
Skema Kerangka Pikir 31
Diagram Alur Desain Penelitian  34

DAFTAR TABEL

NomorJuduL            Halaman
Tingkat Penguasaan Materi38





















DAFTAR LAMPIRAN

NomorJuduL            Halaman
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I60
Format Observasi Aktifitas Guru Siklus I64
Tes Formatif Siklus I67
Daftar Nilai Siklus I69
Pedoman Wawancara Siklus I70
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II72
Format Observasi Aktifitas Guru Siklus II76
Deskripsi Hasil Wawancara Siklus I80
Tes Formatif Siklus II81
Daftar Nilai Siklus II83
Permintaan Izin Melakukan Penelitian
Izin/Rekomendasi Penelitian     
Izin Penelitian
Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian

“peningkatan hasil belajar IPS melalui model kooperatif tipe Number Head  Together (NHT) pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar”.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi ini yaitu zaman modern yang penuh dengan kecanggihan baik itu ilmu pendidikan maupun teknologi yang berkembang pesat, kini menjadikan dunia semakin meningkat dengan adanya pendidikan yang semakin menarik perhatian. Sehingga pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan bangsa dan negara, Oleh karna itu, dunia pendidikan dituntut untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas pendidikannya. Adapun salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Usaha meningkatkan kualitas pendidikan guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar perlu pemahaman yang lebih luas.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.   

Dunia pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia, kehadiran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya di tingkat Sekolah Dasar memiliki peranan sangat penting terutama dalam ilmu  yang lebih menekankan pada hubungan manusia dan lingkungannya. Begitu pentingnya peranan IPS dalam kehidupan sehari-hari berbanding terbalik dengan respon yang diberikan oleh murid pada mata pelajaran ini. Setiap pembelajaran berkelompok murid hanya mengandalkan salah satu anggota kelompoknya untuk mengerjakan tugas kelompoknya. Sehingga hanya salah satu anggota kelompok yang menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Timbulnya masalah ini disebabkan oleh pertama, kurangnya pemahaman murid pada pentingnya mata pelajaran IPS dan apa tujuan sebenarnya. Menurut Mortell (Yaba, 2009: 14)
Tujuan pendidikan IPS adalah pembelajaran yang lebih  menekankan pada aspek “pendidikan” daripada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran IPS murid diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkannya dan melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya

Penyebab yang kedua adalah guru hanya berfokus pada meteri tanpa memperhatikan tingkat keberhasilan individu murid, kurang menguasai model-model pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tidak melibatkan semua murid dalam kegiatan proses pembelajaran yang akhirnya membuat murid kurang memahami pelajaran yang diberikan oleh guru dan murid merasa bosan, kurang berpartisipasi dan acuh dalam kelas.
Salah satunya adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif khususnya pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT). Model ini sangat bagus dalam mengurangi rasa bosan murid dalam belajar IPS karena setiap murid mendapat nomor dan aktif dalam proses pembelajaran untuk mendapat giliran dalam menjawab pertanyaan. Jadi, murid merasa tidak ada yang diabaikan dalam proses belajar mengajar. Setiap murid merasa bertanggungjawab atas tugas yang diberikan, mereka terlatih dalam berdiskusi dan menyelesaikan suatu masalah bersama. Setiap murid akan memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru karena tidak menentukan ketua kelompok yang akan menjawab pertanyaan dari guru, melainkan setiap murid harus siap menjawab pertanyaan guru. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya maka peneliti akan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul:  “peningkatan hasil belajar IPS melalui model kooperatif tipe Number Head  Together (NHT) pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar”.

Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya  maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan model kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota makassar?
Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya maka pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah melakukan perbaikan terhadap proses belajar mengajar dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPS melalui model NHT. Model NHT melatih keberanian diri murid, kerjasama, partisipasi dan motivasi murid dimana setiap murid mendapat nomor, kemudian guru mengajukan pertanyaan dan murid memikirkan jawabannya secara berkelompok. Disinilah murid dilatih untuk bekerjasama dengan temannya. Setelah itu, guru memanggil nomor-nomor yang ada pada murid dan nomor yang dipanggil akan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Cara ini dapat membantu murid dalam memahami materi dan pada akhirnya hasil belajarnya akan meningkat.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model kooperatif tipe Number Head Together  (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS  pada Murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini adalah sebagai berikut:

Manfaat Teoretis
Bagi akademis atau lembaga,  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini  dapat dijadikan sebagai landasan teori pembelajaran IPS pada umumnya dan khususnya dalam peningkatan hasil belajar IPS  di Sekolah Dasar melalui penerapan model NHT.
Bagi peneliti selajutnya, sebagai bahan acuan dalam mengkaji permasalahan yang aktual.
Manfaat Praktis
Bagi murid, hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan murid lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Bagi guru, hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan guru mendapatkan pengalaman nyata dan dapat menggunakan secara langsung model NHT  dalam proses pembelajaran di kelas.
Bagi sekolah, dapat menjadi acuan untuk menetapkan kebijakan dalam pembelajaran dengan memperhatikan bagaimana kinerja guru harus lebih kreatif dalam mengajar.










KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together
Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif pada hakekatnya sama dengan kerja kelompok. Oleh karna itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif karna mereka telah beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan pembelajaran kooperatif. Cooperative berarti bekerjasama dan learning berarti belajar. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil murid yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Slavin (Komalasari, 2010: 62) mendefenisikan bahwa:
Pembelajaran kooperatif adalah suatu staregi pembelajaran di mana murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 2-5 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kempuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.  

Sementara itu, Rusman (2012: 202) menjelaskan bahwa:

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya terdiri empat sampai enam dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah mendasarkan pada suatu ide bahwa murid bekerjasama dalam belajar kelompok dan sekaligus masing-masing bertanggung jawab pada aktivitas belajar anggota kelompoknya, sehingga seluruh anggota kelompok dapat menguasai materi pelajaran dengan baik.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran  kooperatif merupakan sebuah kelompok stategi pengajaran yang melibatkan murid bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama Eggen and Kauchak (Trianto, 2007: 42) pendekatan kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi murid, memfasilitasi murid dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada murid untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama  murid yang berbeda latar belakangnya.
Sementara itu menurut Slavin (Muslimin, 2009: 177) tujuan model pembelajaran kooperatif terdiri dari (a) hasil belajar akademik; (b) penerimaan terhadap perbedaan individu; (c) pengembangan keterampilan sosial; dan                  (d) lingkungan belajar dan sistem pengelolaan. Dari keempat tujuan pembelajaran tersebut diuraikan sebagai berikut.
Hasil belajar akademik yaitu struktur penghargaan pada pembelajaran kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian pebelajar pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan dengan hasil belajar.
Penerimaan terhadap perbedaan individu yaitu penerimaan terhadap orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, maupun kemampuanya.
Pengembangan keterampilan sosial yaitu mengajarkan kepada pebelajar keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif pebelajar dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana membelajarkanya.
Berdasarkan dari beberapa devinisi di atas, maka disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang di arahkan memungkinkan belajar dalam memecahkan masalah bersama-sama atau berkolaborasi secara demokratis tanpa memandang prestasi, etnik, jenis kelamin dan sebagainya untuk mencapai hasil yang maksimal. 
Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson (Rusman, 2012: 212) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:
Prinsip ketergantungan positif, yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
Tanggung jawab perseorangan, yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
Interaksi tatap muka, yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling meberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.

Partisipasi dan komunikasi, yaitu melatih murid untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok  untuk   mengevaluasi  proses  kerja  kelompok  dan  hasil  kerja  sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

Berdasarkan lima unsur pembelajaran kooperatif di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran di mana murid belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran.
Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together
Numbered Heads Together atau penomoran berpikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi murid dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Numbered Heads Togethar pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan (Trianto, 2007: 82) untuk melibatkan lebih banyak murid dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Menurut Kagen (Mappasoro, 2011: 92) mengemukakan:
Numbered Heads Togethar merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada penciptaan struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi murid untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan dimaksudkan sebagai salah satu alternatif dari berbagai struktur yang lebih tradisional yang digunakan selama ini.

Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Togethar merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang dengan maksud melibatkan murid dalam mereview bahan yang tercangkup dalam suatu pelajaran dan mengecek (memeriksa) sejuh mana pemahaman murid mengenai isi pelajaran tersebut.
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heards Together atau disebut kepala bernomor menurut Spencer Kagen (Riyanto, 2010: 273) yaitu:
“1. Murid dibagi dalam kelompok, setiap murid dalam setiap kelompok    mendapat nomor.
Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya.
Guru memanggil salah satu nomor murid dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka
Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
Kesimpulan.”

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah dari model pembelajaran Number Head Together yaitu, murid dibagi kelompok dan setiap murid mendapat nomor, guru mengajukan pertanyaan, pertanyaan tersebut didiskusikan dan  setiap anggota kelompok harus mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, guru memanggil nomor tertentu dan nomor yang dipanggil menjawab,murid yang lain memberi tanggapan. Langkah terakhir yaitu kesimpulan.
Kelebihan dan Kekurangan Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
Menurut Herdi (2009: 3) Numbered Heads Together memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain:
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
Memperbaiki kehadiran
Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
Perilaku mengganggu lebih kecil
Konflik antara pribadi berkurang
Pemahaman yang lebih mendalam
Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Hasil belajar lebih tinggi
Nilai-nilai kerja sama antar murid lebih teruji
Kreatifitas murid termotivasi dan wawasan murid berkembang, karena mereka harus mencari informasi dari berbagai sumber
Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together
Setiap model dan metode yang kita pilih, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Salah satu kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together adalah kelas cenderung jadi ramai dan jika guru tidak dapat mengkondisikan dengan baik, keramaian itu dapat menjadi tidak terkendalikan. Sehingga mengganggu proses belajar mengajar, tidak hanya di kelas sendiri,tetapi bisa juga mengganggu ke kelas lain. Terutama untuk kelas-kelas dengan jumlah murid yang lebih dari 35 orang.
Hasil Belajar
Pengertian Hasil Belajar
Batasan tentang pengertian belajar yang dikemukakan para ahli tidak sama. Hal ini disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang masing-masing. Namun perbedaan tersebut tidak mengakibatkan adanya pertentangan, melainkan justru saling melengkapi dan menunjukkan luasnya aspek yang dibahas yang erat hubungannya dengan belajar.
Menurut Djamarah (2002: 13) mengatakan bahwa:
Hasil belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor. Seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dari tidak mampu mengerjakan menjadi mampu mengerjakannya. Kegiatan dan usaha untuk mencapai kegiatan tingkat laku itu merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar.

Berdasarkan definisi di atas dapat di simpulan bahwa hasil belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan berupa tindakan-tindakan yang tampak oleh mata maupun yang tidak tampak, sehingga diperoleh pengetahuan yang baru dan suatu    usaha   untuk   mencapai    perubahan  dalam tingkah   laku, dimana  perubahan itu  terjadi  melalui individu interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan pengetahuan baru. 

Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut (Riyanto, 2010: 8) dalam proses pembelajaran, hasil belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu “faktor dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern)”. Kedua faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Faktor dalam (intern) yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dalam diri murid yang sedang belajar:
Kondisi fisiologis seperti: Keadaan jasmani, keadaan gizi, kondisi panca indra, keutuhan anggota badan.
Kondisi psikologis seperti: Kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.
Faktor dari luar (ekstern) yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar berasal dari luar diri murid :
Faktor Lingkungan
Lingkungan alam seperti: Suhu udara, kelembaban udara, cuaca, musim, dan kejadian-kejadian alam yang ada.
Lingkungan sosial seperti: Hubungan anak dan orang tua dalam keluarga dan kebisingan yang disebabkan oleh tempat tinggal yang dekat dengan pabrik, pasar, keramaian lalu lintas.
Faktor instrumen yaitu faktor yang menggunakan rancangan untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan.

Hakikat Pembelajaran IPS
Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang di organisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi.
Departemen P dan K RI (Yaba, 2009: 4) menyatakan bahwa:
IPS merupakan terjemahan dari studi sosial (social studies) yang mulai diterapkan dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat sejak tahun 1915 setelah perang dunia pertama. IPS adalah suatu bidang studi yang merupakan paduan sejumlah mata pelajaran sosial.

Disamping itu pula Ischak, S.U., dkk (Yaba, 2006: 7) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran IPS bukan sekedar menyodorkan serentetan konsep-konsep saja, melainkan kemampuan guru dan murid menarik nilai/arti yang terkandung dalam konsep, serta bagaimana cara menerapkannya. Peran guru sebagai perencana dan pelaksana kegiatan belajar dan mengajar sangat penting dan keterlibatan atau keikutsertaan secara aktif kedua belah pihak yaitu guru dan murid akan mewarnai kegiatan belajar mengajar yang diharapkan.

Sedangkan menurut Nu’man soemantri (Amir, 2008: 1) mengemukakan pengertian IPS adalah pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan atau diorganisir/diajarkan secara pedagogik dan psikologis untuk tujuan pengajaran/pendidikan. Kata disederhanakan mengandung arti menurunkan menurunkan tingkat kesukaran materi ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di Universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berpikir anak di SD.
Dari beberapa pendapat tesebut dapat ditarik kesimpulan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang diseleksi dari beberapa bidang ilmu-ilmu sosial berdasarkan tingkat kognitif dan sesuai dengan taraf perkembangan pengetahuan subjek didik.
Tujuan Pembelajaran IPS
IPS adalah telaah tentang manusia dan lingkungan, manusia selalu hidup bersama dengan sesamanya.  Brank, dkk (Amir, 2008: 2) mengemukakan tujuan IPS adalah untuk menyiapkan para murid untuk dapat menjadi warga negara yang baik. Namun Barr dan Shermis  (Amir, 2008: 2) menunjukan bahwa sebenarnya bukan hanya satu telaah melainkan ada tiga yakni:
(1) Pewaris budaya yang menurut mereka bersifat indokrinatif dalam menyampaikan bahan pengajaran; (2) Tradisi ilmu sosial, yang merujuk pada pengertian bahwa IPS sebenarnya dapat diturunkan dari salah satu ilmu sosial yang sifatnya reduktif; dan  (3) Inkuiri reflektif yang didasarkan pada pemikiran refleksi dalam tradisi ini tercermin kemampuan murid memecahkan masalah dalam suasana lingkungan yang sarat nilai.

Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tercantum bahwa tujuan IPS adalah:
Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa cakupan IPS sangat luas, tidak selalu pendidikan sosial yang mengacu kepada keseluruhan kehidupan interpersonal murid, yang meliputi pengajaran sosial yang dialami murid diluar sekolah.

Kerangka Pikir
Masalah penelitian ini adalah hasil belajar IPS Kelas IV di SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar masih belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang disebabkan dari aspek guru yang hanya berfokus dengan materi tanpa memperhatikan tingkat keberhasilan individu murid, kurang menguasai model-model pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tidak melibatkan semua murid dalam kegiatan proses pembelajaran yang akhirnya membuat murid kurang memahami pelajaran yang diberikan oleh guru dan murid merasa bosan, kurang berpartisipasi dan acuh dalam kelas.
Pemilihan model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengoptimalisasi prestasi akademik murid dimana salah satu model pembelajaran yang efektif digunakan yaitu  Model pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together. Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir tersebut dituangkan ke dalam bagan berikut:














Gambar 1. Skema kerangka pikir penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian kerangka pikir di atas, maka hipotesis tindakan yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah Jika model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dilaksanakan pada mata pelajaran IPS maka hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dapat meningkat.
III.   METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sukmadinata (Iskandar, 2008: 29) mengemukakan bahwa:
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan, mengungkapkan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh data hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dan bertujuan untuk mengungkapkan hasil penelitian sesuai dengan fakta dan data yang diperoleh di lapangan. Secara garis besar, langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan kelas meliputi empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini dilaksanakan pada murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar terkait dengan dua aspek yaitu:
Model Numbered Head Together adalah variasi diskusi kelompok yang menggunakan kepala bernomor. Memperhatikan aktifitas guru dalam menerapkan model NHT pada kelas IV .
Hasil Belajar merupakan perubahan yang dicapai murid yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran.
Setting dan Subjek Penelitian
Setting penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini yaitu guru dan murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dengan jumlah murid akhir  sebanyak 27 orang yang terdiri dari 14 orang murid laki-laki dan 13 orang murid perempuan yang terdaftar pada tahun ajaran 2014 dengan sasaran utama meningkatkan hasil belajar IPS melalui Model Kooperatif NHT.

Rancangan Tindakan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitain ini adalah penelitian tindakan kelas. Hal ini didasarkan pada masalah yang akan dipecahkan berasal dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.



Adapun skema dari model penelitian ini, yaitu sebagai berikut:







Gambar  2. Alur Penelitian Tindakan Kelas (Suyadi, 2010)
Adapun penjelasan dari skema di atas, yaitu sebagai berikut:
Gambaran Siklus I
Sesuai dengan tahap yang harus diikuti dalam siklus I,  maka prosedur kegiatan siklus I dalam menyajikan bahan pelajaran melalui penerapan model NHT adalah sebagai berikut:
Tahap Perencanaan

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Membuat media pembelajaran
Membuat lembar kerja murid
Membuat lembar observasi untuk mengetahui bagaimana kondisi kegiatan pembelajaran di kelas baik guru maupun murid
Membuat alat evaluasi pembelajaran
Tahap Tindakan
Untuk tahap ini peneliti dapat bekerjasama dengan guru kelas, mulai dari pelaksanaan tindakan yakni dengan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tahap perencanaan yang telah disusun sebelumnnya. Dimana guru melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Dengan tujuan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang belum sesuai dengan yang diharapkan.
Tahap Observasi
Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran melalui model Numbered head Together (NHT) yaitu mengamati aktifitas murid dan guru dengan menggunakan lembar observasi yang dilakukan oleg guru kelas IV SD Inpres Bontojai Kecamatan tamalanrea Kota Makassar.
Tahap Refleksi
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari setiap siklus. Dimana pada tahap ini, hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Kemudian dari hasil analisis tersebut dilakukan refleksi untuk mengetahui hal-hal yang masih kurang atau yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran. Jika hasil yang dicapai pada siklus I (pertama) belum mencapai indikator yang telah direncanakan yaitu (70%), maka akan didiskusikan bersama guru tentang alternatif pemecahan selanjutnya, sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan.
Gambaran Siklus II
Siklus II dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Tes akhir siklus II dilaksanakan pada pertemuan terakhir. Materi yang dibahas pada siklus II adalah materi lanjutan dari siklus I.  Siklus II merupakan langkah lanjutan dari siklus satu. Tindakan-tindakan yang diambil pada siklus II, berpatokan dari refleksi pada siklus I, didiagnosa kemudian dicari solusi terbaik yang akan diterapkan pada siklus II. Beberapa hal terpenting yang akan dilakukakan dalam siklus II ini antara lain, sebagai berikut:
Mengumpulkan informasi dari hasil yang diperoleh selama siklus I
Mengulangi prosedur pada siklus I dengan beberapa perbaikan berdasarkan tanggapan murid.
Memberi refleksi lanjutan tentang hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
Memperhatikan dengan sangat mendalam refleksi yang telah dibuat sebelum membuat laporan akhir.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian tindakan kelas ini, adalah:

Observasi
Melalui observasi ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran IPS dan seluruh aktifitas murid selama proses pembelajaran IPS berlangsung melalui penerapan model Numbered Head Together.
Tes
Tes merupakan alat yang dilakukan guru kepada murid untuk mengetahui hasil belajar IPS murid kelas IV melalui penerapan model Numbered Head Together. Tes diberikan pada tiap siklus dalam bentuk essai.
Dokumentasi
Dokumentasi ini dilakukan  dengan cara mengumpulkan data tertulis dari sekolah mengenai data hasil belajar IPS, proses kegiatan hasil belajar mengajar dan jumlah murid pada kelas IV SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.
Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan
Teknik Analisis Data
Analisis ini memberikan gambaran tentang data yang dianalisis seperti butir-butir tes yang dipakai dalam penelitian telah memenuhi validitas, sebagian besar data telah dikonfirmasikan kepada responden dan sebagainya dan dipilih untuk menguji perbedaan skor rata-rata atau rerata,baik perbedaan dua kelompok maupun lebih,mengetahui hubungan (korelasi), melihat sumbangan,dan sebagainya. (Punaji Setyosari, : 2010).

Indikator Keberhasilan
Dalam indikator proses ini diamati melalui observasi yang dilaksanakan oleh peneliti untuk melihat langsung proses pembelajaran, sedangkan dalam indikator hasil dapat dilihat melalui peningkatan hasil belajar yang telah dicapai terutama pada hasil belajar IPS dengan menerapkan model belajar Numbered Head Together berdasarkan Kriteria  ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan adalah 67 maka kelas dianggap tuntas secara klasikal. Penerapan Model pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Head Together dikatakan berhasil apabila 80% murid memperoleh  ≥ 67 untuk mata pelajaran IPS.
Adapun kriteria yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan murid adalah sesuai dengan kriteria standar yang dikemukakan SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar, yaitu:
Tabel 3.1 Indikator keberhasilan menurut Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional (SD inpres Bontojai Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar).
Tarif
KebersihanKualifikasi  86 – 100%Baik Sekali (BS)71 – 85%Baik (B)56 – 70%Cukup (C)41 – 55%Kurang (K)  0 – 40%Kurang Sekali (KS)

Jadwal Penelitian

NoJenis Kegiatan       Waktu Efektif Pelaksanaan Tindakan Kelas       I      II     III     IV      V12341234123412341234A.Persiapan Umum1. Observasi di SD2. Penyusunan proposal3. Pengembangan
    Instrument4. Pelaksanaan seminar                  Proposal 5. Perizinan6. Pertemuan dengan pihak sekolahB.Pelaksanaan PTK1. Pelaksanaan siklus I2. Penyusunan draft Laporan siklus I3. Pelaksanaan siklus II4. Penyusunan draft Laporan siklus II5. Penyempurnaan akhir laporanC.Evaluasi Hasil PTK1. Seminar hasil PTK2. Perbaikan skripsi 3. Ujian meja skripsi4. Revisi dan pengadaan skripsi5. Pengumpulan skripsi

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI. Jakarta : BNSP.

Djamarah, Saiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Herdi. 2009. Model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together), (Online), Http//herdy07.wordpress.com (diakses tanggal 13/1/2014).

Iskandar. 2008. Metode Pendidikan dan Sosial (kualitatif dan kuantitatif). Jakarta: Yogyakarta

Komalasari, kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual (Konsep dan Aplikasi). Bandung: PT. Refika Aditama.

Mappasoro. 2011. Strategi Pembelajaran. Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan  Universitas Negeri Makassar

Muslimin, dkk. 2009. Pendidikan dan latihan profesi, guru modul SD PSG rayon 24. UNM.

Satyosari Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: RENCANA PRENADA MEDIA GROUP.

Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesional Guru, Jakarta : RajaGrafindo Persada.

Suyadi. 2010. Paduan Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta:  Diva Press.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik. Surabaya: Prestasi pustaka.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Cemerlang.

Yaba, dkk. 2009. Buku Ajar Materi Pendidikan IPS DI SD, Makassar : Fakulitas Ilmu Pendidikan UNM.












model pembelajaran role playing aktivitas belajar mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kedisiplinan Belajar dapat ditanamkan kepada murid -siswi melalui beberapa metode pembelajaran di kelas. Pilihan metode atau model pembelajaran merupakan bagian yang penting dan membutuhkan kejelian serta inovasi guru dalam proses transformasi ilmu pengetahuan atau nilai-nilai. Kita menyadari bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal, agar dengan pendidikan potensi dirinya dapat berkembang melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan dilakukan oleh masyarakat. Lahirnya generasi baru yang cerdas dan handal adalah suatu keharusan bagi suatu bangsa, para pendidk (guru) serta orang tua. Seperti yang tercermin dalam nilai-nilai mata pelajaran PKn, bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda yang cerdas (dikutip dari berbagai sumber internet).
Sistem pendidikan nasional yang awalnya bersifat sentralisasi, seiring pemberlakuan otonomi daerah tahun 1999 berubah menjadi desantralisasi yang ditandai dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Pembaharuan dari visi pendidkan nasional adalah terwujudnya sisrem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan seluruh warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan produktif manjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Upaya meningkatkan aktivitas belajar murid merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam propesi keguruan dan pendidikan. Banyak upaya yang telah dilakukan dan banyak pula keberhasilan yang telah dicapai, meslipun keberhasilan itu belum sepenuhnya memberuikan kepuasan bagi masyarakat dan para pendidik, sehingga sangat menuntut renungan, pemikiran dan kerja keras orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Tujuan pendidikan di sekolah harus mampu mendukung kompetensi tamatan sekolah, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di negara kita dewasa ini, lebih diwarnai oleh pendekatan yang menitikberatkan pada model belajar konvensional seperti ceramah, sehingga kurang mampu merangsang murid untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar (Suwarma, 1991 43).
Proses dan pemecahan masalah pembelajaran di kelas dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya melalui diskusi kelas, tanya jawab antara guru dan peserta didik, Inquiry dan metode-metode lain. Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk dapat membawa dirinya sebagai agen pembawa informasi dengan baik. Guru yang kreatif selalu mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton. Untuk melaksanakan proses pebelajaran perlu dipikirkan metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan metode disamping harus disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran juga ditetapkan dengan melihat kegiatan yang akan dilakukan , metode pembelajaran sangat beraneka ragam, guru dapat memilih metode pembelajaran yang efektif untuk mengantarkan murid mencapai tujuan.
Keberhasilannya proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh seorang guru yang melakukan transfer ilmu (knowledge transfer) melalui proses pembelajarannya,dalam hal ini strategi pembelajaran menjadi penting dalam proses belajar tersebut. Banyak metode pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh para gura, metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran tersebut, antara lain : Metode Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode diskusi, Metode pemberian tugas, Metode demontrasi, Metode karyawisata, Kerja kelompok (inquiri), Metode bermain peran, Metode dialog, Metode bantah membantah, dan Metode bercerita (Sudrajat, 2009).
Kemampuan guru dalam memilih dan memilah metode, yang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian prestasi belajar murid . Tuntutan tersebut mutlak dilakukan oleh seorang guru, apabila melalukan transfer ilmu khususnya PKn. Hal tersebut juga sejalan dengan tuntutan kurikulum saat ini yang sangat memperhatikan kepentingan metode pembelajaran yang akan digunakan.
Terdapat banyak strategi metode pembelajaran, dan dari sekian banyak metode pembelajaran tersebut,dapat dikatakan bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran satu dengan model pembelajaran yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beraneka ragam tersebut. Tidaklah cukup bagi seorang guru untuk hanya menggantungkan diri pada satu model pembelajaraan saja.
Metode yang digunakan para guru pada saat proses pembelajaran sebagian besar menggunakan metode ceramah, yang kadang menimbulkan rasa jenuh pada diri murid , sehingga dalam beberapa waktu kemudian murid kurang tertarik lagi akan situasi belajar, kondisi inilah yang menyebabkan nilai kedisplinan siwa dalam hal belajar dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan kurang diterapkan dalam diri murid , sehingga mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut, tentang metode yang dapat meningkatkan kedisiplinan murid dalam belajar.
Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan pada proses belajar mengajar mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II diketahui bahwa masih terdapat beberapa masalah yang kiranya perlu dipecahkan oleh guru sehinga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Masalah-masalah tersebut antara lain : 1) dari sisi guru;  berupa penguasaan kelas yang kurang, pengelolaan proses belajar mengajar yang terkesan biasa saja, kurang sistematis, intensitas tugas kelas yang kurang, guru kurang menstimulus aktivitas belajar murid, membiarkan murid yang bermain dengan sesama rekannya, tidak memberikan teguran kepada murid yang ribut, sedangkan 2) dari sisi murid antara lain; banyak murid kurang aktif dalam proses belajar mengajar, murid tidak/kurang memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan sesama rekannya, murid yang tidur dalam kelas, dan lain-lain.
Berdasarkan permasalahan yang di identifikasi pada proses belajar mengajar mata pelajaran PKn pada murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar di atas, maka salah satu pemecahan masalah yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan merubah metode pembelajaran yang digunakan kearah metode yang dapat memberikan peluang kepada murid untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Metode pembelajaran yang dimaksud adalah metode role playing. Role Playing berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Indriana Puswitasari (2008: 1) pada murid kelas III SD Bandar Pacitan dapat meningkatkan aktivitas, antusiasme, dan prestasi belajar murid. Peningkatan aktivitas, antusiasme dan prestasi belajar murid tersebut dicapai dengan mengoptimalkan perangkat pembelajaran dalam role playing itu sendiri. 
Disamping keberhasilan penerapan metode role playing dalam meningkatkan aktivitas, antusiasme dan prestasi belajar murid kelas V di SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar di atas, beberapa alasan penggunaan metode role playing pada mata pelajaran PKn murid kelas V di SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar antara lain :
Memberikan pengalaman langsung kepada murid untuk memecahakan masalah yang dihadapinya secara nyata.
Dengan metode bermain peran membantu murid menentukan makna-makna kehidupan dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya.
Melatih murid untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokratif sekaligus bertanggung jawab dalam mengimplementasikan nilai-nilai pancasila (Mudaimin, 2008) http://www.infodiknas.com.
Berdasarkan alasan di atas, maka peneliti merasa tertarik sekaligus melatarbelakangi penulis untuk mengkaji lebih dalam tentang metode role playing terkait dengan upaya meningkatkan aktivitas belajar mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar. 
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan pada latar belakang, maka objek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “apakah dengan menggunakan model pembelajaran  role playing aktivitas belajar mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar? 
C. Tujuan Penelitian
Searah dengan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar melalui pendekatan role playing.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan ada beberapa manfaat yang akan diperoleh, baik manfaat secara praktis maupun teoritis.

Manfaat secara praktis yaitu :
Bagi penulis, sebagai referensi dan dapat lebih mengembangkan metode pembelajaran di sekolah.
Bagi sekolah dan dewan guru dapat meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan metode yang efektif yang salah satunya metode bermain peran yang berguna meningkatkan aktivitas belajar murid .
Bagi masyarakat, untuk menambah wawasan keilmuan, khususnya dalam memilih metode dan menyajikan materi pelajaran.
Sedangkan manfaat secara teoritis yaitu : bahwa hasil penelitian dapat menjadikan sumbangan pemikiran bagi guru-guru dalam melaksanakan proses pembelajaran kepada murid di dalam kelas.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1.  Pembelajaran Role Playing
a.  Pengertian dan ciri-ciri pembelajaran Role Playing
Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut.  Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Role Playing  adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing  murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas, dengan menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, Role playing  sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).
Senada yang dikemukakan oleh Gintings (2008 : 55) bahwa Role Playing  adalah metode yang efektif digunakan untuk mensimulasikan keadaan nyata.
Dalam Role Playing murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran PKn standar kompetensi menampilkan sikap demokratis, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001).  Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian sejenis yang telah dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari role playing  adalah: Pertama, role playing  dapat memberikan semacam hidden practise, dimana murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan sedang mereka pelajari. Kedua, role playing  melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok untuk kelas besar. Ketiga, role playing  dapat memberikan kepada murid kesenangan karena role playing  pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia murid . Masuklah ke dunia murid , sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000: 12).
b. Langkah-langkah pembelajaran Role Playing
Gintings (2008 : 57), menjelaskan langkah-langkah role playing atau bermain peran sebagai berikut :
Langkah Perencanaan
Pelajari dengan cermat kegiatan yang akan dismimulasikan dan catat bagian-bagian atau langkah-langkah yang akan diperagakan.
Buatlah skenario simulasi kepada topik, dan tujuan pembelajaran serta catatan  tentang bagian dan langlah-langkah utama  yang telah dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
Lakukan ujicoba  serta penyempurnaan scenario simulasi yang telah dibuat menjadi skenario akhir yang akan di gunakan dikelas.
Langkah Persiapan
Siapkan dan periksalah  kesiapan peralatan serta perlengkapan pendukung lainnya.
Jelaskan kepada murid  gambaran umum  simulasi dan kaitan  dengan topic yang dipelajari, tujuan yang akan dicapai serta apa yang diharapkan dari murid
Siapkan skenario simulasi yang telah disempurnakan
Langkah Pelaksanaan
Lakukan langkah demi langkah kegiatan simulasi sesuai dengan skenario.
Guru berperan sebagai sutradara yang mengendalikan  kegiatan agar simulasi  berjalan sesuai dengan skenario dan dilaksanakan  dengan serius.
Ingatkan murid  yang kurang serius agar memfokuskan diri pada kegiatan  supaya memberikan  makna bagi dirinya  dan kelas.
Guru membuat catatan-catatan tentang hal-hal perlu didiskusikan  pada akhir pembelajaran yang meliputi hal-hal yang perlu diperbaiki.
Jika waktu masih tersedia, ulangi melakukan langkah emi langkah dengan terlib dahulu mendiskusikan hal-hal yang perlu diperbaiki.
Minta murid  mentebutkan urutan langkah demi langkah dengan kecepatan sub-normal dan guru melakukan langkah sesuai dengan urutan yang disebutkan oleh murid
Langkah Evaluasi dan Penutup
Lontarkan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan bagian atau langkah yang baru diperagakan berdasarkan catatan-catatan yang telah dibuat.
Minta komentar dari murid  tentang pelaksanaan langkah-langkah dilakukan oleh temannya.
Buatlah rangkuman dari kegiatan simulasi yang terkait dengan tujuan pembelajaran dengan menggalinya dari murid .
Sedangkan langkah-langkah pembelajaran role playing dalam penelitian ini pada mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar mengikuti uraian Basri Syamsu (2000: 23) yang dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Tahap memotivasi kelompok; (a) Guru membentuk kelompok murid menjadi 6 kelompok, sehingga 4 kelompok terdiri dari 6 orang murid, sedangkan 2 kelompok lainnya terdiri dari 7 orang murid, (b) masing-maisng kelompok menentukan sendiri ketua kelompoknya, dan, (c) memotivasi kelompok untuk melaksanakan peran yang akan diberikan.  2) Memilih pemeran, yaitu; Pemilihan dan pembagian peran dilakukan sendiri oleh murid dalam kelompoknya masing-masing sesuai dengan tugas yang diberikan guru sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. 3) Menyiapkan pengamat, yaitu: Pengamatan dapat dilakukan oleh guru atau peneliti secara langsung selama kegiatan bermain peran terlaksana. 4) Menyiapkan tahap-tahap permainan peran, yaitu: Guru menyiapkan lembar kegiatan bermain peran kepada masing-masing kelompok yang berisikan tentang teknis pelaksanaan bermain peran, utamanya tentang bagaimana berorganisasi yang baik (terlampir). 5) Pemeranan, yaitu: (a) Selama proses bermain peran berlangsung, guru melaksanakan observasi aktivitas belajar murid  dan mengisinya pada lembar observasi yang telah disiapkan sebelumnya (format lembar observasi terlampir), (b) masing-masing murid memainkan perannya sesuai dengan yang telah disepakati bersama dalam kelompok. 6) Diskusi dan evaluasi, yaitu: Guru dan kelompok peran melaksanakan diskusi untuk mengevaluasi hasil bermain peran yang telah dilaksanakan sehingga kekurangan dan kelemahan masing-masing kelompok dapat diperbaiki bersama.  7) Pemeranan ulang, yaitu: Jika terdapat kekurangan dan kelemahan pada masing-masing kelompok selama bermain peran maka guru memberikan tugas kepada kelompok murid untuk memperbaikinya dengan cara melaksanakan bermain peran kembali. 8) Membagi pengalaman dan menarik generalisasi, yaitu: (a) Masing-masing kelompok menarik kesimpulan tentang topik pelajaran yang telah diperankan, dan (b) Masing-masing kelompok saling memberikan masukan kepada kelompok lainnya tentang peran yang telah dilaksanakan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari murid baik secara perseorangan maupun kelompok.
c. Tujuan pembelajaran Role Playing
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang didalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b) melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
Sementara itu, Davies (1987: 19) mengemukakan bahwa penggunaan role playing dapat membantu murid dalam mencapai tujuan-tujuan afektif. Esensi role playing, menurut Chesler dan Fox dalam Basri Syamsu (2000: 23) adalah the involvement of participant and observers in a real problem situation and the desire for resolution and understanding that this involvement engender.
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa penggunaan model ini dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Ada empat asumsi yang mendasari model ini memiliki kedudukan yang sejajar dengan model-model pengajaran lainnya. Keempat asumsi tersebut ialah: Pertama, secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menekankan dimensi “di sini dan kini” (here and now) sebagai isi pengajaran. Kedua, bermain peran memberikan kemungkinan kepada para murid untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tak dapat mereka kenali tanpa bercermin kepada orang lain. Ketiga, model ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Keempat, model mengajar ini mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang tersembunyi (covert) berupa sikap-sikap nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sistem keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya.
Untuk dapat mengukur sejauhmana bermain peran memberikan manfaat kepada pemeran dan pengamatnya ditentukan oleh tiga hal, yakni (1) kualitas pemeranan; (2) analisis yang dilakukan melalui diskusi setelah pemeranan; (3) persepsi murid terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi nyata dalam kehidupan. Pembelajaran dengan model role playing dilaksanakan menjadi beberapa tahap, yaitu sebagai berikut: (1) tahap memotivasi kelompok; (2) memilih pemeran; (3) menyiapkan pengamat; (4) menyiapkan tahap-tahap permainan peran; (5) pemeranan; (6) diskusi dan evaluasi; (7) pemeranan ulang; (8) diskusi dan evaluasi kedua; (9) membagi pengalaman dan menarik generalisasi.
d.  Prinsip-prinsip penerapan pembelajaran Role Playing dalam mata pelajaran PKn
Pada masing-masing kelompok mata pelajaran terdapat sejumlah mata pelajaran. Setiap mata palajaran memiliki standar kompetensi lulusan mata pelajaran yang harus dicapai, serta standar isi mata pelajaran untuk tiap-tiap jenjangnya. Akumulasi kemampuan tiap mata pelajaran akan membentuk kompetensi kelompok mata pelajaran. Rincian kompetensi dalam SKL/KTSP belum sampai pada kompetensi dasar (setidaknya secara eksplisit belum dicantumkan dalam SKL dan SI).
Kita menginferensi adanya kompetensi dasar dilihat dari rincian kompetensi mata pelajaran. Pencapaian seluruh kompetensi dasar mata pelajaran untuk mencapai kompetensi lulusan mata pelajaran yang disebut dengan standar kompetensi mata pelajaran. Kompetensi dasar inilah selanjutnya memerlukan pengembangan lebih lanjut oleh sekolah/guru untuk dijabarkan ke dalam bentuk indikator hasil belajar, yang pada hakikatnya adalah kompetensi satu jenis proses pembelajaran.
Menurut Sudjana (2000: 71) Selain tujuan yang harus diperhatikan untuk menentukan materi mata pelajaran atau isi pelajaran, dalam konteks yang lebih sempit ada faktor lainnya yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan isi atau materi pembelajaran yaitu : 
Urgensi materi, artinya materi itu penting untuk diketahui oleh murid . Selain dari itu, bahan tersebut merupakan landasan untuk mempelajari materi selanjutnya.
Tuntutan kurikulum, artinya secara minimal materi itu wajib diberikan sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Nilai kegunaan, materi itu memiliki nilai manfaat bagi kehidupan murid sehari-hari.
Terkait dengan uraian di atas, maka standar kompetensi yang dipilih untuk dilakukan pembelajaran role playing adalah : 1) Memahami kebebasan berorganisasi dengan kompetensi dasar; (a) mendeskripsikan pengertian organisasi, (b) menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat, (c) menampilkan peran serta dalam memilih organisasi di sekolah, (d) mengenal bentuk keputusan bersama, dan (e) mematuhi keputusan bersama. Pemilihan standar kompetensi ini sangat sesuai dengan penggunaan metode role playing yang akan digunakan, mengingat dalam satuan kurikulum standar kompetensinya dituntut pula untuk murid mampu memainkan peran dalam berorganisasi.
e. Keunggulan dan Kelemahan  Role Playing
1) Keunggulan Role Playing
Metode role playing atau bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan murid . Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan murid  dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati (Depdikbud, 1987).
Sedangkan menurut Gintings (2008 : 56) keunggulan utama role playing adalah:
Mampu melatih kompetensi murid  dalam melakukan kegiatan praktis yang yang mendekati keadaan yang sebenarnya (real situasi), sehingga sangat cocok untuk digunakan dalam pelatihan pembekalan petugas atau pekerja.
Metode bermain peran yang dirancang secara cermat  dan mendekati kegiatan yang sebenarnya serta dilaksanakan  dengan serius  akan menciptakan  suasana belajar PAKEM
Jika suasana pembelajaran  dilaksanakan  dilaksanakan secara serius dan mampu menghadirkan suasana (athosphere) yang mendekati keadaan sebenarnya, maka penggunaan metode permainan peran efektif  dalam mengajarkan ranah afektif atau sikap.
Metode ini banyak melibatkan murid  dan membuat murid  senang belajar, sebagaimana dikemukakan obeh Adorn dan Mbirirnujo (1990:21) yang menyatakan bahwa metode bermain peran ini mempunyai nilai tambah, yaitu :
Dapat dijamin jika seluruh murid  dapat berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerja sama hingga berhasil
Permaman merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. Butir terakhir inilah yang menjadi dasar dalam bermain peran, yang menyatakan bahwa anak-anak dapat belajar dengan baik pada saat pelajaran tersebut dapat menyenangkan.
Hal senada dikemukakan oleh Kristiani (1999:14) bahwa dengan menerapkan metode bermain peran akan terjadi suasana yang menggembirakan bagi murid  selama mereka belajar metode role playing dapat meningkatkan pemahaman murid  terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari .
Pidarta (1990 : 82) bahwa dengan melakukan peran suatu kasus pada materi pelajaran yang sedang dibahas. Para murid  diharapkan dapat menghayati kejadian itu, sehingga pemahaman dan sikap mereka terhadap mata pelajaran PKn semakin meningkat.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode role playing banyak melibatkan murid  untuk beraktifitas dalam pembelajaran, sehingga akan memberikan suasana yang menggembirakan sehingga murid  senang dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Dengan demikian, kesan yang di dapat murid  tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari lebih kuat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan basil belajarnya.
2) Kelemahan Role Playing
Kelemahan atau kekurangan role playing berdasarkan temuan hasil penelitian Prasetyo (2008: 76) di SMPN 1 Driyorejo Gresik antara lain:
Menimbulkan kegaduhan sehingga terkadang menyebabkan kelas yang lain merasa terganggu
Dibutuhkan keterampilan guru dalam mengelola permainan
Murid  kurang maksimal atau menghayati peran yang dilakoninya
Membutuhkan banyak waktu untuk melakukan persiapan dalam bermain peran
Dibutuhkan kecakapan bahasa yang baik dari murid . 
Sedangkan menurut Gintings (2008 : 56) keunggulan utama role playing adalah:
Tidak semua guru menguasai kompetensi yang akan disimulasikan sehingga jika dipaksakan menerpakan metode bermain peran, maka simulasi tidak mewakili kondisi nyata
Tidak semua guru menguasai kompetensi merancang kegiatan simulasi
Memerlukan persiapan dan penyiapan  yang matang serta membutuhkan banyak waktu dan sumber daya lain.
Jika scenario pembelajaran tidak dirancang dengan cermat dan tidak dilaksanakan dengan seirus justru akan menjadi kegiatan yang sia-sia dan perubahan dalam dalamketigah ranah perilaku tidak akan tercapai.
Bisa trejadi demotivasi dari dalam diri murid  yang kurang berperan dalam  kegiatan tersebut atau memainkan peran yang kurang disukainya.
2. Aktivitas Belajar
a. Pengertian aktivitas belajar
Menurut Sriyono (Kamdi, 2009) aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas murid selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan murid untuk belajar. Aktivitas murid merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan - kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas - tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan murid lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Mengerjakan serangkaian soal-soal ulangan PKn mengandung makna aktivitas guru mengatur kelas sebaik-baiknya dan menciptakan kondisi yang kondusif sehingga murid dapat belajar PKn. Aktifnya murid selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi murid untuk belajar.
Adapun penerapan pembelajaran role playing dalam mata pelajaran PKn dalam penelitian ini mengikuti uraian Basri Syamsu (2000: 23) yang dapat diuraikan sebagai beirkut :
Tahap memotivasi kelompok
Guru membentuk kelompok murid menjadi 6 kelompok, sehingga 4 kelompok terdiri dari 6 orang murid, sednagkan 2 kelompok lainnya terdiri dari 7 orang murid.
Masing-maisng kelompok menentukan sendiri ketua kelompoknya, dan
Memotivasi kelompok untuk melaksanakan peran yang akan diberikan.  
Memilih pemeran
Pemilihan dan pembagian peran dilakukan sendiri oleh murid dalam kelompoknya masing-masing sesuai dengan tugas yang diberikan guru sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
Menyiapkan pengamat
Pengamatan dapat dilakukan oleh guru atau peneliti secara langsung selama kegiatan bermain peran terlaksana.
Menyiapkan tahap-tahap permainan peran
Guru menyiapkan lembar kegiatan bermain peran kepada masing-masing kelompok yang berisikan tentang teknis pelaksanaan bermain peran, utamanya tentang bagaimana berorganisasi yang baik (terlampir).
Pemeranan
Selama proses bermain peran berlangsung, guru melaksanakan observasi aktivitas belajar murid  dan mengisinya pada lembar observasi yang telah disiapkan sebelumnya (format lembar observasi terlampir).
Masing-masing murid memainkan perannya sesuai dengan yang telah disepakati bersama dalam kelompok.
Diskusi dan evaluasi
Guru dan kelompok peran melaksanakan diskusi untuk mengevaluasi hasil bermain peran yang telah dilaksanakan sehingga kekurangan dan kelemahan masing-masing kelompok dapat diperbaiki bersama. 
Pemeranan ulang
Jika terdapat kekurangan dan kelemahan pada masing-masing kelompok selama bermain peran maka guru memberikan tugas kepada kelompok murid untuk memperbaikinya dengan cara melaksanakan bermain peran kembali.
Membagi pengalaman dan menarik generalisasi.
Masing-masing kelompok menarik kesimpulan tentang topik pelajaran yang telah diperankan.
Masing-masing kelompok saling memberikan masukan kepada kelompok lainnya tentang peran yang telah dilaksanakan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari murid baik secara perseorangan maupun kelompok.
Prinsip-prinsip pengembangan aktifitas  belajar
Terdapat dua sudut pandang terhadap prinsip-prinsip aktivitas dalam belajar jika ditinjau dari segi psikologi pendidikan, yaitu menurut pandangan ilmu jiwa lama, dan menurut pandangan ilmu jiwa modern.  Menurut Sardiman (2006: 97) a dapat diuraikan sebagai berikut:
Menurut ilmu jiwa lama
Teori yang diajukan John Locke dengan konsep tabularasa, mengibaratkan jiwa (psyche) seseorang bagaikan kertas putih yang tidak bertulis. Artinya, aktivitas belajar murid di kelas pada prinsipnya harus dibangun oleh guru sebagai faktor luar yang dapat mempengaruhi terciptanya kondisi belajar mengajar yang diinginkan.
Menurut pandangan ilmu jiwa modern
Jiwa manusia sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi dan energi sendiri. Oleh karena itu, secara alami anak didik itu juga bisa menjadi aktif, karena adanya motivasi dan didorong oleh bermacam-macam kebutuhan. Oleh karena itu, tugas pendidik adalah membimbing dan menyediakan kondisi agar anak didik dapat mengembangkan bakat dan potensinya, dalam hal ini anaklah yang beraktivitas, berbuat dan harus aktif sendiri.
Jenis-jenis aktivitas dalam belajar
Sekolah merupakan salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh murid di sekolah. Aktivitas murid tidak cukup hanya dengan mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional. Paul B. Diedrich (Sardiman, 2006: 101) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan murid yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut :
Visual aktivities, yang termasuk di dalamnya seperti membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan dan pekerjaan orang lain.
Oral aktivities, seperti; menyatakan, merumuskan, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawacara, diskusi dan interupsi.
Listening aktivities, seperti; mendengarkan, uraian percakapan, diskusi, pidato dan musik.
Writing aktivities, seperti menulis buku cerita, karangan, laporan, angket dan menyalin.
Drawing aktivities, seperti; menggambar: membuat grafik, peta dan diagram.
Motor aktivities, seperti : melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, dan beternak.
Mental aktivities, seperti; menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan dan mengambil kesimpulan.
Emotional aktivities, seperti; menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang dan jujur.
Jadi dengan klasifikasi aktivitas seperti diuraikan di atas, menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan akan memperlancar peranannya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan. Tetapi sebaliknya, ini semua merupakan tantangan yang menuntut jawaban dari para guru. Kreativitas guru mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan murid yang sangat berbvariasi tersebut.

d. Ciri-ciri murid yang akif dalam belajar
Murid dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri - ciri perilaku seperti : a) sering bertanya kepada guru atau murid lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, b) mampu menjawab pertanyaan, dan c) senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya.
Semua ciri perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi proses dan dari segi hasil. Trinandita (Yasa, 2008) menyatakan bahwa ”hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan murid ”. Keaktifan murid dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan murid ataupun dengan murid itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing murid dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari murid akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi (Sumber : www.wordpress.com).
Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Sebagai rasionalitasnya hal ini juga mendapatkan pengakuan dari berbagai ahli pendidikan. Frobel (Sardiman, 2006: 96) mengatakan bahwa “dalam dinamika kehidupan manusia, berpikir dan berbuat sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan begitu juga dalam belajar sudah barang tentu tidak meungkin meninggalkan kedua kegiatan itu, berpikir dan berbuat. Seseorang yang telah berhenti berbuat perlu diragukan eksistensi kemanusiaannya. Hal ini sekaligus juga merupakan hambatan bagi proses pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Dengan kata lain, dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas proses belajar tindak mungkin berlangsung dengan baik.
Ahmadi dan Supriyono (2004: 206) menjelaskan indikator cara belajar murid aktif dapat dilihat dari tingkaha laku mana yang muncul dalam proses belajar mengajar, berdasarkan apa yang dirancang oleh guru. Indikator tersebut dapat dilihat dari lima segi, yakni :
Dari sudut murid :
Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan permasalahannya.
Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan, proses, dan kelanjutan belajar.
Penampilan berbagai usaha/kekreatifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai keberhasilannya.
Kebebasan atau keleluasaan melakukan hal-hal tersebut tanpa tekanan guru/pihak lainnya (kemandirian belajar)
Dari sudut guru :
Usaha mendorong, membina gairah belajar dan partisipasi murid secara aktif.
Peranan guru tidak mendominasi kegiatan belajar murid .
Memberi kesempatan kepada murid untuk belajar menurut cara dan keadaan masing-masing.
Menggunakan berbagai jenis metode mengajar serta pendekatan multi media.
Dari segi program :
Tujuan instruksional serta konsep maupun isi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat, serta kemampuan subjek didik.
Program cukup jelas dapat dimengerti murid dan menantang murid untuk melakukan kegiatan belajar.
Bahan pelajaran mengandung fakta/informasi, konsep, prinsip dan keterampilan.
Dari segi situasi belajar, tampak adanya :
Iklim hubungan intim dan erat antara guru dan murid , antara murid dengan murid , guru dengan guru, serta dengan unsur pimpinan di sekolah.
Gairah serta kegembiraan belajar murid sehingga murid memiliki motivasi yang kuat serta keleluasaan mengembangkan cara belajar masing-masing.
Dari segi sarana belajar, tampak adanya :
Sumber-sumber belajar bagi murid .
Fleksibilitas waktu untuk melakukan kegiatan belajar.
Dukungan dari berbagai jenis media pengajaran.
Kegiatan belajar murid tidak terbatas di dalam kelas tapi juga di luar kelas.
Dengan adanya tanda-tanda tersebut, maka akan lebih mudahh bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Setidak-tidaknya dapat memberikan rambu-rambu bagi guru dalam mewujudkan aktivitas belajar murid .
e.  Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar murid
Aktivitas belajar proses belajar mengajar dalam kelas sangat erat kaitannya dengan hasil belajar yang akan dicapai murid pada akhir kegiatan pembelajaran dilaksanakan guru, sehingga ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas murid tersebut sebagaimana dijelaskan Muhibbin (2002) yaitu :
1) Faktor internal, yaitu: a) Faktor psikis (jasmani); Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas anak dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. b) Faktor psikologis (kejiwaan); Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas perolehan pembelajaran anak yang mempengaruhi serangkaian aktivitas belajar murid meliputi; (1) Intelegensi, (2) Sikap, (3) Bakat, (4) Minat, dan (5) Motivasi. 2) Faktor eksternal, yaitu: a) Lingkungan sosial; Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang anak. b) Lingkungan non-sosial; Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya rumah tempat tinggal keluarga dan anak dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan anak. 3) Faktor pendekatan belajar: Disamping faktor-faktor internal dan eksternal anak sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran anak tersebut. Cara guru dan orang tua dalam mendidik anak juga berpengaruh besar terhadap minat dan perhatian anak terhadap materi yang sedang dipelajari. Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan anak dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu”.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan aktivitas belajar murid pada dasarnya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar. Dengan menerapkan pembelajaran role playing pada mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres Gotong-Gotong II kiranya guru mampu meningkatkan aktivitas belajar murid karena pembelajaran role playing sendiri memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid untuk mempunyai peran aktif dalam proses belajar mengajar, disamping itu murid dapat menggali potensi diri yang dimiliki dan dapat diekspresikan secara bebas dalam satu bentuk peran yang dimainkan di dalam kelas.
B. Kerangka Berpikir
Kemampuan guru dalam memilih dan memilah metode, yang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian prestasi belajar murid . Tuntutan tersebut mutlak dilakukan oleh seorang guru, apabila melalukan transfer ilmu khususnya PKn. Hal tersebut juga sejalan dengan tuntutan kurikulum saat ini yang sangat memperhatikan kepentingan metode pembelajaran yang akan digunakan.
Terdapat banyak strategi metode pembelajaran, dan dari sekian banyak metode pembelajaran tersebut,dapat dikatakn bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran satu dengan model pembelajaran yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beraneka ragam tersebut. Tidaklah cukup bagi seorang guru untuk hanya menggantungkan diri pada satu model pembelajaraan saja.
Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Berdasarkan uraian di atas, maka pelaksanaan model pembelajaran bermain peran atau yang lebih dikenal dengan sebutan Role Playing pada mata pelajaran PKn murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar pada prinsipnya adalah upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar murid mengingat kondisi belajar yang dialami murid kelas V di SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar saat ini 12 orang atau 5,04% tingkat aktivitas belajarya selama proses belajar mengajar di kelas cukup rendah, yang ditunjukkan dengan kurangnya perhatian murid terhadap guru saat materi pelajaran disampaikan, murid lebih banyak bermain dan sibuk dengan sesama rekannya. 
Sejalan dengan uraian di atas, maka skema kerangka pikir penelitian dapat dilihat sebagai berikut :






 

Gambar 1. Skema kerangka pikir
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka diatas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah  jika dalam proses pembelajaran PKn diterapkan  pembelajaran Role Playing  pada murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar, maka aktivitas  belajar dapat ditingkatkan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dipilih atau digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Peneliti menganalisis data dengan mempertimbangkan gejala yang diamati serta memanfaatkan catatan lapangan mengenai peningkatan aktifitas belajar . murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar melalui model role playing
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Menurut Wiriatmadja (2006: 11) pengertian penelitian tindakan kelas yaitu:
Penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

Tujuan penelitian tindakan kelas dilakukan menurut Wiriatmadja (2006: 91) yaitu “untuk memperbaiki praktek pembelajaran di kelas, yang akan meningkatkan juga kualitas belajar murid”. Sedangkan menurut Umar A. (2005: 9) bahwa “penelitian tindakan kelas bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani kegiatan belajar mengajar“.
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada peningkatan aktivitas belajar mata pelajaran PKn  murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar dengan  model pembelajaran  role playing
C. Seting dan Subjek Penelitian
Setting Penelitian
Penelitian ini berlangsung di Sekolah Dasar Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar yang berlangsung selama 2 bulan.
Subjek Penelitian
Murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar, yang berjumlah 37 orang, yang terdiri dari 19 laki-laki dan 18 perempuan.
D. Prosedur Penelitian
Gambaran Umum Model PTK yang Dipilih
Mekanisme pelaksanaan tindakan mengikuti model Kemmis dan Taggart. Karena mudah diterapkan oleh guru pada saat melakukan proses kegiatan belajar.
Bagan Model PTK
Model siklus yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :














Gambar 3.1. Bagan rencana siklus penelitian
Penelitian di laksanakan dalam dua siklus kegiatan, di mana pada masing-masing siklus terdiri dari (2 x) dua kali kegiatan tatap muka, sehingga total kegiatan tatap muka selama dua siklus adalah (4 x) empat kali kegiatan. Standar kompetensi yang diajarkan pada siklus I adalah : (1) Memahami kebebasan berorganisasi, sedangkan siklus II adalah : (2) Menghargai keputusan bersama. Masing-masing siklus berikut standar kompetensi yang diajarkan dapat diuraikan sebagai berikut :
Siklus I
Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan dengan kegiatan utama sebagai berikut :
Menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus dan skenario pembelajaran (RPP).
Menyusun format observasi dan evaluasi pembelajaran.
Menyusun dan mendesain skenario pelaksanaan tindakan.   
Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tahap tindakan terdiri dari :
Pertemuan I :
Menyiapkan murid untuk menerima materi pelajaran.
Mengelola kelas.
Absensi kehadiran murid.
Menyampaikan tujuan pembelajaran melalui model Role Playing
Menyajikan materi pelajaran yaitu pengertian dan contoh-contoh organisasi di sekolah dan di lingkungan masyarakat.
Menjelaskan pasal dalam UUD 1945 tentang kebebasan berorganisasi.
Memperlihatkan beberapa gambar perkumpulan atau kelompok.
Melakukan tanya jawab tentang hasil pengamatan gambar.
Guru memberikan contoh bentuk-bentuk organisasi.
Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajukan pertanyaan.
Melakukan umpan balik kepada murid.
Murid dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang, setiap anggota kelompok mendapat perannya sendiri.
Guru menjelaskan tujuan pembagian kelompok.
Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk mempersiapkan belajar bermain peran terkait dengan materi pelajaran, yaitu berorganisasi.
Pertemuan II : 
Menyiapkan perangkat pembelajaran, lembar observasi, dan teks dialog peran.
Menanyakan kesiapan murid untuk menerima materi pelajaran sekaligus kesiapan untuk melakukan kegiatan bermain peran. 
Menyampaikan tujuan pembelajaran Role Playing dan motivasi murid. 
Melakukan review pembelajaran pertemuan I.
Guru mempersiapkan masing-masing kelompok untuk bersiap melakukan bermain peran yang ditugaskan. Dalam hal ini kelompok I mendapat kesempatan pertama, dan selanjutnya diikuti oleh kelompok lainnya secara bergantian.
Guru melaksanakan observasi aktivitas belajar murid melalui format observasi yang telah disiapkan sebelumnya.
Hingga kegiatan bermain peran oleh masing-masing kelompok berakhir, Guru menyimpulkan materi pelajaran. 
Tahap Observasi
Kegiatan observasi dilakukan secara kontinyu setiap kali pembelajaran berlangsung dalam pelaksanaan tindakan dengan mengamati kegiatan guru dan aktifitas murid . Obserbasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang berkenaan dengan metode pembelajaran kelompok untuk meningkatkan sktifitas  belajar murid kelas V SD Inpres GOTONG-GOTONG II Makassar.
Tahap Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh pada tahap observasi. Baik aktifitas  yang dilakukan oleh guru dan aktifitas yang dilakukan oleh murid . Berdasarkan hasil analisis data dilakukan refleksi guna melihat kekurangan dan kelebihan yang terjadi pada saat pembelajaran. Kekurangan dan kelebihan ini dijadikan acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.

Siklus II
a.   Perencanaan
Dalam tahap ini, hal-hal yang dilakukan oleh peneliti adalah
Membuat skenario pembelajaran yang disesuaikan dengan siklus I
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan siklus I
Membuat lembar kerja murid  yang disesuaikan dengan siklus I
Membuat lembar observasi yang disesuaikan dengan siklus I
Membuat alat evaluasi.
b.  Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran sesuai skenario pembelajaran yang telah dibuat. Kegiatan itu sebagai berikut.
Guru menyampaikan materi dan kompetensi yang ingin dicapai
Guru diminta untuk memikirkan tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.
Peneliti atau guru menjelaskan materi pelajaran setelah itu murid  diminta untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
Peneliti melakukan pemantauan selama kegiatan pembelajaran berlangsung berdasarkan pedoman observasi.
Murid  diminta membentuk bimbingan belajar berpasangan dalam meningkatkan hasil belajar PKn dan menguraikan hasil pemikiran masing-masing.
Meminta wakil dari tiap kelompok untuk mengerjakan soal (LKS) dipapan tulis dan kelompok menanggapi.
Berawal dari kegiatan tersebut, guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambahkan materi yang belum diungkapkan pada murid .
Guru memberikan kesimpulan
Memberikan tugas rumah yaitu membuat soal sendiri dan dijawab sendiri.
Pada akhir siklus dilakukan pengukuran kemampuan.
c.  Observasi
Kegiatan observasi dilakukan secara kontinyu setiap kali pembelajaran berlangsung dalam pelaksanaan tindakan dengan mengamati kegiatan guru dan aktifitas murid . Obserbasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang berkenaan dengan metode pembelajaran kelompok untuk meningkatkan prestasi belajar murid  kelas IV SD Inpres Pacinongan Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
d.  Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh pada tahap observasi. Berdasarkan hasil analisis data dilakukan refleksi guna melihat kekurangan dan kelebihan yang terjadi pada saat pembelajaran. Kekurangan dan kelebihan ini dijadikan acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.
E. Teknik Pengumpulan Data  
Dalam  penelitian tindakan kelas, format observasi digunakan untuk merekam data proses belajar mengajar yang dilaksanakan.
Observasi
Observasi atau pengamatan dimaksudkan untuk mengumpulkan berbagai informasi atas aktivitas murid dan guru saat pelaksanaan tindakan di kelas yang meliputi observasi kelompok dan penilaian diri.
Tes Hasil Belajar 
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh data hasil belajar murid setelah mempelajari bahan siklus I dan siklus II melalui soal evaluasi.
Dokumentasi
Dokumentasi digunakan sebagai bahan laporan atas pengamatan yang telah dilakukan.
F. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi selama proses belajar mengajar selanjutnya dianalisis secara deskriptif dengan sistem kategorisasi nilai untuk memperoleh kesimpulan nilai rata-rata murid. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dapat diolah dengan menggunakan rumus, menurut Khalik A. (2009: 38) adalah sebagai berikut :
Jumlah yang muncul
        X 100 %
Jumlah yang seharusnya
Tabel 3.1. Taraf Keberhasilan
Taraf KeberhasilanKualifikasi 85% - 100%
70% - 84%
55% - 69%
46% - 54%
0% - 45%Sangat Baik (SB)
Baik (B)
Cukup (C)
Kurang (K)
Sangat Kurang (SK)G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian tindakan ini adalah bila hasil belajar murid  selama proses pembelajaran tiap siklus mengalami  peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hal ini ditandai dengan daya serap individu minimal 60% dan ketuntasan klasikal 70% serta observasi murid  dan pengelolaan pembelajaran berada dalam kategori baik dan sangat baik.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini akan dibahas  hasil-hasil penelitian  setelah pelaksanaan penerapan model pembelajaran role playing dalam mata pelajaran pkn untuk meningkatkan aktivitas belajar murid kelas V SD Inpres BTN IKIP  Makassar. Setelah menggunakan model pembelajaran role playing dari siklus  I ke siklus II.  Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa hasil penelitian akan dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu sebagai berikut:
Deskripsi Hasil Penelitian
Siklus I
Tahap Perencanaan
Pada tahap ini penelitian melakukan telaah terhadap kurikulum, khususnya kurikulum sekolah dasar. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai standar kompetensi yang ingin dicapai pada mata pelajaran Pkn yaitu membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran role playing.
Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran role playing, seorang guru harus memilih media yang cocok.Setelah memilih media guru membuat skenario pembelajaran tentang materi pelajaran dengan menggunakan model pembelajaran role playing. Skenario ini berguna agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Supaya proses pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai maka guru harus menyusun rencanan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran role playing   yang dibagi atas langkah-langkah pembelajaran sebanyak 3 kegiatan pembelajaran  yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan akhir. Agar proses pembelajaran  dengan menggunakan model pembelajaran role playing ruangan kelas harus ditata dengan bagus supaya disaat pembelajaran semua murid fokus memerhatikan materi yang akan diajarkan.
Tahap Pelaksanaan Tindakan (Aksi)
Adapun pelaksanaan tindakan pada siklus I ini berlangsung selama 1 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang dilaksanakan pada tanggal 5 Maret  2009 di kelas V SD Inpres BTN IKIP  Makassar. Pelaksanaan pembelajaran dan penyajian materi dilaksanakan oleh peneliti dan ditemani oleh seorang pengamat/observer. Pada penelitian ini menerapkan model pembelajaran role playing dengan mata pelajaran PKn. Dalam pelaksanaan pembelajaran murid  dibagi menjadi lima kelompok dan setiap kelompok diberi permasalahan yang berbeda. Kemudian setiap kelompok mempresentasekan hasil kerja kelompoknya dan murid  yang lain memberi tanggapan.
Pada awal tatap muka guru menyampaikan materi yang sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat yaitu nilai-nilai pancasila. Setelah guru menjelaskan materi pelajaran murid diminta untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
Guru kemudian melanjutkan materi. Setelah menjelaskan materi guru kemudian memberikan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari tentang penerapan nilai-nilai pancasila sehingga pada saat proses pembelajaran selesai siswa dapat mengaplikasikan nilai-nilai pancasila tersebut. Kemudian guru menjelaskan materi dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran simulasi kreatif sebagai berikut: langkah perencanaan, pada langkah ini guru mempelajari  dengan cermat kegiatan yang akan dismimulasikan dan mencatat bagian-bagian atau langkah-langkah yang akan diperagakan. Guru kemudian membuat skenario simulasi sesuai dengan topik dan tujuan pembelajaran. Setelah itu guru melakukan ujicoba  serta penyempurnaan skenario simulasi yang telah dibuat menjadi skenario akhir yang akan di gunakan dikelas.
Selanjutnya langkah persiapan, pada langkah ini guru mempersiapkan dan memeriksa kesiapan peralatan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam melakukan simulasi. Kemudian menjelaskan kepada siswa gambaran umum  simulasi dan kaitan  dengan topik yang dipelajari, tujuan yang akan dicapai serta apa yang diharapkan dari siswa serta menyiapkan Siapkan skenario simulasi yang telah disempurnakan.
Kemudian langkah pelaksanaan, setelah semua persiapan selesai kemudian simulaipun dilakukan. Guru berperan sebagai sutradara yang mengendalikan kegiatan agar simulasi  berjalan sesuai dengan skenario dan dilaksanakan  dengan serius. Mengingatkan kepada siswa  agar memfokuskan diri pada kegiatan  supaya memberikan  makna bagi dirinya  dan kelas. Setelah itu guru membuat catatan-catatan tentang hal-hal perlu didiskusikan  pada akhir pembelajaran yang meliputi hal-hal yang perlu diperbaiki. Jika waktu masih tersedia, ulangi melakukan langkah emi langkah dengan terlib dahulu mendiskusikan hal-hal yang perlu diperbaiki. Minta siswa mentebutkan urutan langkah demi langkah dengan kecepatan sub-normal dan guru melakukan langkah sesuai dengan urutan yang disebutkan oleh siswa.
Langkah terakhir yang dilakukan adalah evaluasi dan penutup, pada langkah ini guru kemudian bertanya kepada siswa  yang terkait dengan bagian atau langkah yang baru diperagakan berdasarkan catatan-catatan yang telah dibuat. Kemudian merangkum dari kegiatan simulasi yang terkait dengan tujuan pembelajaran dengan menggalinya dari siswa.
Setelah siswa memahami materi yang dijelaskan oleh peneliti selanjutnya siswa diberi LKS untuk dikerjakan oleh setiap siswa.. Dalam menyelesaikan LKS guru menyampaikan kepada siswa tentang aturan-aturan yang harus setiap siswa perhatikan. Pada saat siswa mengerjakan LKS, guru melakukan pengawasan kepada siswa. Waktu yang diberikan siswa untuk mengerjakan tugas selama 30 menit.
Kegiatan selanjutnya yaitu laporan masing-masing siswa. Setiap siswa memaparkan hasil kerja mereka di papan tulis. Peneliti yang bertindak sebagai guru menunjuk siswa secara acak. Hal ini agar siswa selalu siap untuk mepertanggung jawabkan hasil kerjanya sehingga tidak menonton pada temannya. Selanjutnya menerikan kesempatan pada temannya untuk member tanggapan terhadap jawaban siswa penyaji. Apalagi jawaban dari siswa penyaji sudah tepat maka peneliti menunjuk temannya memaparkan hasil kerjanya. Berikut kutipan pembelajarannya;
Pada kegiatan ini guru menyampaikan prasyarat pengetahuan  dari materi yang akan diajarkan sehingga ada gambaran pada siswa tentang materi pelajaran yang akan dipelajari, setelah melakukan absensi guru langsung menyampaikan materi melalui buku.
Setelah semua kegiatan dilakukan, peneliti mengadakan evaluasi untuk mengetahui hasil dari semua kegiatan yang telah dilakukan. Tes dilakukan secara bersama-sama di dalam kelas. Soal yang diberikan berbentuk essay yang dibagikan kepada masing-masing siswa untuk dikerjakan.
Kegiatan selanjutnya yaitu peneliti meminta kepada siswa menukarkan jawaban temannya untuk diperiksa. Setelah itu guru menunjuk beberapa siswa untuk menuliskan jawabannya di papan tulis. Apabila jawaban yang ditulis di papan tulis masih ada kesalahan, peneliti menunjuk temannya untuk memperbaikinya. Setelah semua soal terjawab dengan benar dan siswa sudah memeriksa pekerjaan temannya guru menyuruh siswa untuk mengembalikan pekerjaan temannya. Selanjutnya peneliti mengumumkan nilai pekerjaan masing-masing siswa.
Berdasarkan hasil tes dalam pembelajaran siklus I diperoleh data bahwa dari jumlah siswa sebanyak 37 tidak ada siswa yang memperoleh nilai 9, yang memperoleh nilai 8 yaitu 10 orang, siswa yang memperoleh nilai 7 yaitu 8  orang, yang memperoleh nilai 6 yaitu 12 orang dan 7 orang siswa yang memperoleh nilai 5. Ini berarti bahwa tidak adanya siswa yang memperoleh nilai 9 disebabkan karena beberapa indikator tentang pembelajaran yang belum dilaksanakan dengan baik untuk itu untuk tahap selanjutnya pada pertemuan berikutnya. Melakukan diskusi dengan guru pamong dan dosen pembimbing.
Pelaksanaan Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan penerapan pembelajaran pendekatan simulasi lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi berupa tes hasil belajar siklus I. Pada tahap ini peneliti mengobservasi dengan memperhatikan segala sesuatu yang terjadi pada awal kegiatan pembelajaran sampai  akhir pembelajaran,  peneliti memantau kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan pendekatan Pendekatan simulasi kreatif. Peneliti memperhatikan kegiatan guru pada saat pembelajaran berlangsung nerdasarkan format penelitian yang telah disiapkan dan peneliti memperhatikan keaktifan siswa pada saat pembelajaran berlangsung  berdasarkan format penelitian yang telah disiapkan. Namun demukian pelaksanaanya belum optimal dan masih banyak ditemukan kelemahan-kelamahan dilihat dari aktivitas guru maupun aktivitas siswa. Adapun kelemahan-kelemahan yang dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut:
Faktor Guru
Kegiatan guru dalam pembelajaran belum terarah dengan baik
Pengelolaan kelas belum maksimal
Penyampain materi belum terlalu baik
Guru belum berperan secara optimal dalam membimbing dan mengarahkan jalannya proses pembelajaran.
Guru masih kurang baik memanfaatkan waktu yang tepat.
Faktor Siswa
Ada siswa yang tidak memperhatikan gurunya menjelaskan
Sebagian siswa kurang aktif
Sebagian siswa merasa canggung/kaku dalam menyelesaikan soal di papan tulis.
Siswa belum memberikan bimbingan bagi siswa yang belum menyelesaikan soal LKS
Sebagian siswa belum memahami penjelasan yang diberikan oleh guru.
Pelaksanaan Refleksi
Peneliti bersama guru menganalisis hasil temuan pada tindakan I. dari hasil observasi tindakan I ditemukan bahwa masih banyak kelemahan yang terdapat pada peneliti yang bertindak sebagai guru dan kelemahan pada siswa. Sehingga perlu dilakukan perbaikan pada pelaksanaan siklus I yaitu:
Guru
Guru dapat menyampaikan materi harussecara rinci, jelas, padat dan menggunakan bahasa yang lugas
Guru harus maksimal mengarahkan kegiatan siswa dengan baik, sehingga pembelajarn bisa terarah dengan baik
Pemberian bimbingan bagi siswa yang maksimal.
pengelolaan kelas harus maksimal
Memberikan motivasi kepada siswa agar dapat menyelesaikan tugas (LKS) secara bersama
Guru dapat memanfaatkanan waktu juga belum tepat.
Siswa
Siswa harys memahami secara keseluruhan interuksi/penjelasan yang diberikan oleh guru.
Siswa tidak boleh canggung/kaku dalam menyelesaikan soal di papan tulis.
Siswa maksimal menerima bimbingan dari guru dalam hal  menyelesaikan soal LKS.
Siswa harus memahami penjelasan yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa tujuan yang ingin dicapai pada pembelajaran siklus I belum tercapai secara optimal sebab beberapa indicator dalam penelitian yang belum dilakukan dengan tepat. Hal ini sesuai dengan analisis hasil belajar siswa bahwa sekitar 42 persen siswa yang memperoleh nilai 7 ke atas. Yang berarti hasil belajar yang dicapai belum mencapai target siswa yang direncanakan yakni 70 persen  ke atas. Oleh karena itu peneliti dan observer melakukan diskusi  dan menyepakati untuk melanjutkan pada pembelajaran             siklus II.

2. Siklus II
Rencana Tindakan
Sesuai dengan hasil analisis dan refleksi pada tindakan I masih ada beberapa yang belum memahami nilai-nilai pancasila. Untuk itu peneliti melakukan perbaikan pada tindakan II. Hal ini terlihat pada persentase ketuntasan klasikal belum mencapai 75 persen jumlah siswa, di mana belum mencapai indikator kinerja. Untuk itu peneliti mengadakan perbaikan pada tindakan II. Penekanan pembelajaran tindakan II adalah memahami sekaligus menerapkan nilai-nilai pancasila dengan menggunakan pendekatan simulasi. Pembelajaran tindakan II dilaksanakan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2x35 menit. Adapun rencana pembelajaran II dapat dilihat pada lampiran.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus I ini dilakukan pada tanggal 8 maret  2010 mengawali tindakan pembelajaran peneliti mengucapkan salam, mengelolah kelas. Setelah itu guru menyampaikan topik yang akan dipelajari, lalu mengingatkan kembali materi yang dijelaskan pada tindakan II
Kemudian guru melanjutkan materinya. Peneliti menekankan pada masing-masing siswa agar membimbing temannya yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal bilangan dengan teknik menyimpan. Selain itu, peneliti juga mengontrol dan mengawasi jalannya kegiatan pembelajaran. Bila ada siswa yang mengalami kesulitan, maka peneliti memberikan bimbingan.
Setelah siswa menyelesaikan soal evaluasi, peneliti menyuruh masing-masing peneliti menunjuk beberapa siswa untuk menuliskan jawabannya di papan tulis dan temannya menaggapinya. Setelah itu siswa disuruh untuk mengembalikan pekerjaan temannya, kemudian mengumumkan nilai masing-masing siswa.
Berdasarkan hasil tes dalam pembelajaran siklus I diperoleh data bahwa dari jumlah siswa sebanyak 36 siswa yang memperoleh nilai 9 sebanyak 8 orang, yang memperoleh nilai 8  sebanyak 15 orang, siswa yang memperoleh nilai 7 sebanyak 9 orang, yang memperoleh nilai 6  yaitu  6 orang dan tidak ada siswa yang memperoleh nilai 5.
Pelaksanaan Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan pendekatan simulasi lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi berupa tes hasil belajar siklus II. Pada tahap ini peneliti mengobservasi dengan memperhatikan segala sesuatu yang terjadi pada awal kegiatan pembelajaran sampai  akhir pembelajaran, peneliti memantau kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan pendekatan Pendekatan simulasi kreatif . Adapun hasil pengamatan siklus II adalah sebagai berikut:
Faktor Guru
Guru mampu mengarahkan kegiatan siswa dalam aktivitas pembelajaran dengan baik
Guru sudah mampu mengelola kelas dengan baik
Penyampain materi sudah baik
Guru telah mampu berperan secara optimal dalam membimbing dan mengarahkan jalannya proses pembelajaran.
Guru sudah mampu memanfaatkan waktu yang tepat.
Faktor Siswa
Tidak ada lagi siswa yang tidak tidak dapat bekerja sama dengan temannya.
Kerja sama siswa sudah terarah
Semua siswa sudah mulai aktif
Siswa sudah mampu membimbing temannya yang tidak bisa menyelesaikan soal LKS.
Pelaksanaan Refleksi
Peneliti bersama guru menganalisis hasil temuan pada tindakan II. dari hasil observasi tindakan II, kelemahan yang ada pada guru maupun siswa sudah teratasi. Guru mampu mengarahkan kegiatan siswa dalam aktivitas pembelajaran dengan baik, guru sudah mampu mengelola kelas dengan baik, guru telah mampu meenyampaikan materi dengan baik, guru telah mampu berperan secara optimal dalam membimbing dan mengarahkan jalannya proses pembelajaran, guru sudah mampu memanfaatkan waktu yang tepat.
Kelemahan pada siswa sudah tidak tampak lagi pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini bisa terealisasi dengan tuntunan dan bimbingan yang dilakukan oleh peneliti yang berfungsi sebagai fasilitator dan sebagai sumber belajar. Siswa dengan senang hati tanpa beban menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
Selain itu, dari peningkatan hasil tes kemampuan siswa dalam memahami penjumlahan bilangan cacah telah mencapai target, yakni 100 persen siswa telah mencapai hasil belajar 70 persen ke atas. Berdasarkan hal tersebut peneliti dan observer merencanakan untuk mengakhiri penelitian samapai siklus II.
B. Pembahasan
Kedisiplinan siswa yang ditunjukkan melalui perilakunya dalam sehari-hari di sekolah, banyak indikator yang dapat dilihat dalam rangka pengukuran tingkat kedisiplinannya, seperti: disiplin waktu, disiplin dalam belajar, disiplin berpakaian, dan disiplin terhadap pemanfaatan fasilitas sekolah. Indikator-indikator tersebut dapat merupakan cerminan dari konsep kedisiplinan siswa.
Hasil penelitian pada SD Inpres BTN IKIP  Makassar menunjukkan bahwa siswa telah menunjukkan sikap ketaatan atau kepatuhan dalam melaksanakan aturan yang berlaku sehingga sangat mempengaruhi peningkatan prestasi belajar siswa. Adapun upaya-upaya yang telah ditempuh dalam peningkatan kedisiplinan siswa berupa: memberikan pemahaman tentang pentingnya ketaatan terhadap peraturan sekolah, menekankan pengawasan melekat, dan pemberian sanksi terhadap siswa yang melanggar peraturan walaupun masih sebatas teguran lisan.
Pada analisis kualitatif diperoleh data dari pengamatan guru pada saat pembelajaran berlangsung dan tugas yang telah diberikan. Dalam hal ini yang menjadi fokus pengamatan adalah sikap, kesungguhan dan tanggapan-tanggapan siswa.
Pelaksanan pembelajaran melalui pendekatan simulasi dimulai dari tahap persiapan, di mana guru harus benar-benar memahami masalah dan memiliki macam-macam strategi yang mungkin akan ditempuh siswa dalam menyelesaikannya, guru memperkenalkan strategi pembelajaran yang dipakai, siswa kemudian mencoba strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara perorangan maupuin kelompok. Kemudian setiap siswa atau kelompok memperesentasekan hasil kerjanya di depan kelas dan siswa atau kelompok lain memberi tanggapan, setelah mencapai kesepakatan tentang strategi terbaik melalui diskusi kelas, siswa diajak menarik kesimpulan dari pelajaran saat itu. Pada akhir pelajaran siswa harus mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk pendidikan kewarganegaraan formal.
Dari awal penelitian berlangsung hingga berakhirnya siklus I tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada siswa yaitu:
a.Perhatian siswa terhadap proses pembelajaran makin baik. Dalam hal ini ditandai dengan kuantitas siswa yang bertanya meningkat.
b.Keberanian siswa untuk menjelaskan pendidikan kewarganegaraan. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa siswa yang mengacungkan tangannya untuk menjawab pertanyaan dari guru.
c.Jumlah siswa yang mengerjakan tugas mengalami peningkatan, sebaliknya siswa yang tidak mengumpulkan tugas yang diberikan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan keadaan sebelum berlangsung penelitian ini.
Pada pertemuan awal siklus I, semangat dan keaktifan siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dan menyelesaikan tugas yang diberikan hampir tidak mengalami perubahan yang berarti dibandingkan dengan sebelum pelaksanaan penelitian ini.
Materi nilai-nilai pancasila yang diberikan pada pertemuan pertama, walaupun umumnya siswa mengerjakan tugas tersebut dari pengamatan terhadap jawaban yang diberikan dan penguasaan mereka terhadap jawaban itu menunjukkan bahwa mereka hanyalah mencontoh jawaban dari temannyan yang dianggap mampu, tanpa mengetahui bagaimana penyelesaian yang sebenarnya dari tugas tersebut.
Dari pengamatan juga diketahui bahwa masalah siswa sebagian besar di didengar dari temannya yang telah lebih dahulu menjelaskan nilai-nilai pancasila Dari segi sikap terhadap proses pembelajaran nilai-nilai pancasila  pada awal-awal pertemuan siklus I tidak jauh beda dengan proses pembelajaran sebelum penelitian dilakukan. Namun pada pertemuan-pertemuan berikutnya siswa sudah mulai tertarik. Ini terlihat dari berkurangnya siswa yang tidak hadir pada setiap belajar pendidikan kewarganegaraan. Hal ini juga disebabkan karena contoh-contoh soal yang diberikan hampir seluruhnya berkaitan langsung dengan kegiatan sehari-hari siswa.
Secara umum dapat dikatakan bahwa siklus ini siswa sudah mulai menampakkan sikap positif terhadap mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Hal ini diiringi dengan adanya beberapa siswa yang antusias menaggapi tugas-tugas yang di berikan,walaupun yang banyak  memberikan komentar maupun jawaban adalah berkisar pada siswa tertentu.
Pada siklus II, perubahan–perubahan dasar ditemukan pada siswa adalah sebagai berikut:
a.Perhatian siswa pada proses pembelajaran dibandingkan siklus sebelumnya semakin baik.
b.Kesungguhan siswa dalam mengerjakan tiap tugas yang diberikan juga mengalami peningkatan jika dibandingkan siklus I.
Proses pembelajaran pada siklus II ini tidak jauh berbeda dengan siklus sebelumnya saat berlangsungnnya proses pembelajaran. Pelaksanan pembelajaran melalui pendekatan simulasi dimulai dari tahap persiapan, dimana guru harus benar-benar memahami masalah dan memiliki macam-macam strategi yang mungkin akan ditempuh siswa dalam menyelesaikannya, guru memperkenalkan strategi pembelajaran yang dipakai, siswa kemudian mencoba strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara perorangan maupuin kelompok. Kemudian setiap siswa atau kelompok memperesentasekan hasil kerjanya di depan kelas dan siswa atau kelompok lain memberi tanggapan, setelah mencapai kesepakatan tentang strategi terbaik melalui diskusi kelas, siswa diajak menarik kesimpulan dari pelajaran saat itu. Pada akhir pelajaran siswa harus mengerjakan soal evaluasi.
Dalam mengerjakan soal latihan yang diberikan umumnya siswa masih selalu memerlukan bimbingan dari guru. Walaupun demikian perhatian siswa terhadap pelajaran pendidikan kewarganegaraan telah dianggap positif. Hal ini terlihat dari jawaban setiap siswa.
Pada akhir pertemuan siklus II terlihat kesungguhan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran mengalami kemajuan. Hal tersebut terlihat oleh jawaban siswa menyelesaikan tugas-tugas dengan metode tugas mandiri dan individual. Tugas ini di ramu sedemikian rupa sehingga siswa termotivasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
Pada pelaksanaan siklus ini walaupun dari segi pemahaman materi hampir tidak ada perbedaan. Akan tetapi dari segi sikap siswa terhadap mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, minat, berupa keinginan untuk mengetahui materi yang disajikan oleh guru ataupun kesungguhan siswa dalam proses pembelajaran megalami kemajuan. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang hadir mengikuti pelajaran.
Pada awal siklus I umumnya siswa menganggap bahwa pendidikan kewarganegaraan itu sesuatu yang tidak penting. Namun setelah berlangsungnya pelaksanaan siklus I hingga siklus II, dimana pada hampir semua contoh-contoh soal selalu dikaitkan dengan keadaan lingkungan sehingga pada akhirnya mereka mengerti tentang manfaat pendidikan kewarganegaraandalam kehidupan.
Mengenai soal-soal latihan yang diberikan dan dikerjakan di kelas umumnya mereka masih sulit menjawab. Sebagian siswa biasanya mengerti penjelasan guru di kelas. Namun jika sudah belajar di rumah atau mengerjakan tugas, maka penjelasan guru sudah terlupa lagi. Apalagi kalau berselang beberapa hari setelah dijelaskan oleh guru.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Selama penelitian ini berlangsung dalam dua siklus perubahan-perubahan yang terjadi atas siswa dapat dikemukakan bahwa: melalui pendekatan simulasi dapat meningkatkan hasil belajar pembelajaran PKn bagi kelas V SD Inpres BTN IKIP  Makassar. Serta nilai belajar PKn mengalami peningkatan.
B. Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka penulis menyarankan:
Untuk guru, agar strategi pembelajaran dengan pendekatan simulasi disusun sedemikian rupa sehingga menjadi metode pembelajaran yang lebih efektif terhadap pokok-pokok bahasan tertentu.
Untuk siswa, sekiranya dapat lebih fokus memperhatikan pelajaran ketika proses belajar mengajar berlangsung
Untuk sekolah, diupayakan sedini mungkin untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami, baik oleh siswa maupun guru dalam proses pembelajaran.
Untuk pengambil kebijakan, sekiranya dapat menambah lagi media pembelajaran di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi dan Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Aqib, Zainal. 2009. Peneltian Tindakan Kelas. Untuk Guru. Bandung: Yrama Widya. 

Direktorat Tenaga Kependidikan. 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya. Peningkatan Mutu dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional.

Ginrings, Abdorakhman. 2008. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Humaniora.Imron,

Syaiful. 2009. Role Playing. http://gooogle/ipank_say.blogspot.com, diakses tanggal 26 Oktober 2009.

Kamdi, Waras. 2009. Role Playing sebagai Pembelajaran Yang Efektif. www.google/waraskamdi.blogspot.com, diakses tanggal 26 Oktober 2009.

Mudairin. 2009. Role Playing : Suatu Alternatif Pembelajaran yang Efektif dan Menyenagkan dalam Meningkatkan Keterampilan Murid. http://www.infodiknas.com, diakses tanggal 26 Oktober 2009. 

Mujiman, Haris. 2006. Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muslimin, dkk. 2008. Panduan Penulisan Skripsi. Makassar:  PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.

Prasetyo, Anang. 2008.  Inisiasi Pengembangan Pembelajaran Role Playing. Gresik: SMP Negeri 1 Driyorejo. 

Radjiman. 2007. Keragaman Bangsaku. Pelajaran Pendidikak Kewarganegaraan untuk SD Kelas 5. Jakarta: Ganeca Exact.

Setiawati Widihastuti dan Fajar Rahayuningsih. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. SD/MI Kelas V. Jakarta: Aneka Ilmu.
Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjana, Nana. 2000. Cara Belajar Murid Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Sudjana, Nana. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Edisi Revisi. Bandung: Sinar Baru.

Sudrajad, Akhmad. 2009. Model-Model Pembelajaran Inovatif. http://gooogle/akhmadsudrajad.blogspot.com, diakses tanggal 26 Oktober 2009.

Trinandita. 2009. Pengertian Aktivitas Belajar. www.wordpress.com, diakses tanggal 26 Oktober 2009.

Umar, A dan Kaco N , 2007. Penelitian Tindakan Kelas Pengantar ke dalam pemahaman Konsep dan Aplikasi. Makassar . Badan Penerbit UNM
Yasa, Doantara. 2008. Pembelajaran Pembelajaran Kooperatif. (http://www.wIKIP edia.org/artikelbebas/doantarablog). diakses tanggal 25 Juli 2009.

. 2009. Kumpulan Pembelajaran Pendampingan. www.gooogle.com, diakses tanggal 26 Oktober 2009.
Umar, A. 2005. Statistik (jilid I) Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan UNM






LAMPIRAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS I
Sekolah : SD Inpres BTN IKIP  Makassar
Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Kelas/Semester : V/ II (Dua) 
Alokasi Waktu : 2 x 35 Menit (2x pertemuan)
Standar Kompetensi : Memahami kebebasan berorganisasi  
Standar Kompetensi : 
Memahami kebebasan berorganisasi
Kompetensi Dasar :
Mendeskripsikan pengertian berorganisasi.
Menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Indikator :
Menjelaskan pengertian organisasi
Menyebutkan manfaat berorganisasi
Menjelaskan perbedaan organisasi pemerintah dan non pemerintah.
Mendemosnstrasikan cara berorganisasi.
Tujuan pembelajaran :
Murid dapat menjelaskan pengertian organisasi
Murid dapat menyebutkan manfaat organisasi
Murid dapat menjelaskan perbedaan organisasi pemerintah dan non pemerintah.
Murid dapat menyebutkan contoh orgnanisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Murid dapat menyebutkan ciri-ciri sebuah organisasi.
Murid dapat menjelaskan tugas anggota organisasi.
Materi Pelajaran :
Pengertian organisasi
Organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Struktur organisasi.
Metode dan Model Pembelajaran : 
Metode pembelajaran ceramah bervariasi
Model pembelajaran Role Playing
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
Pertemuan I (3 x 35 menit)
Kegiatan Awal
Murid memberi salam dan berdoa.
Guru mengecek kehadiran murid.
Apersepsi
Menanyakan kesiapan belajar siswa
Melaksanakan absensi kehadiran siswa.
Menjelaskan secara singkat tujuan pelajaran.
Kegiatan Inti
Aktivitas Guru:
Menyajikan materi pelajaran yaitu pengertian dan contoh-contoh organisasi di sekolah dan di lingkungan masyarakat.
Menjelaskan pasal dalam UUD 1945 tentang kebebasan berorganisasi.
Memperlihatkan beberapa gambar perkumpulan atau kelompok.
Melakukan tanya jawab tentang hasil pengamatan gambar.
Guru memberikan contoh bentuk-bentuk organisasi.
Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajukan pertanyaan.
Melakukan umpan balik kepada murid.
Murid dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang, setiap anggota kelompok mendapat perannya sendiri.
Guru menjelaskan tujuan pembagian kelompok.
Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk mempersiapkan belajar bermain peran terkait dengan materi pelajaran, yaitu berorganisasi.  
Kegiatan Akhir
Guru menyimpulkan materi pelajaran.
Guru memberikan penguatan dan motivasi kepada siswa.  
Pertemuan II (3 x 35 menit)
Kegiatan Awal
Murid memberi salam dan berdoa
Apersepsi :
Menyiapkan perangkat pembelajaran dan lembar observasi aktivitas belajar murid.
Menanyakan kesiapan belajar siswa
Melaksanakan absensi kehadiran siswa.
Kegiatan Inti
Aktivitas Guru:
Melakukan review pembelajaran pertemuan I.
Guru mempersiapkan masing-masing kelompok untuk bersiap melakukan bermain peran yang ditugaskan. Dalam hal ini kelompok I mendapat kesempatan pertama, dan selanjutnya diikuti oleh kelompok lainnya secara bergantian.
Aktivitas Murid:
Ketua dan anggota kelompok mempersiapkan ruangan/ kelas, setting ruangan dan bahan yang diperlukan untuk bermain peran.
Ketua kelompok mengingatkan anggotanya mengenai pembagian peran yang harus dimainkan.
Seluruh anggota kelompok melaksanakan bermain peran, hingga bagian akhir permainan.
Kelompok lain terlibat aktif dalam bermain peran sesuai dengan tugas kelompoknya masing-masing sesuai tema yang diperankan.
Guru melaksanakan observasi aktivitas belajar murid melalui format observasi yang telah disiapkan sebelumnya.
Kegiatan Akhir
Guru memberikan pujian kepada kelompok yang memainkan peran dengan baik.
Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang paling baik dalam bermain peran.
Media Belajar dan Sumber Belajar
Media belajar
1)  Gambar
2)  Lembar observasi aktivitas belajar.
3)  Lembar evaluasi tertulis.  
Sumber belajar 
Silabus mata pelajaran PKn SD Inpres Maccini
Sajari dan Suharto. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SD kelas V. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Hal. 69. 
Widihastuti dan Rahayuningsih. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SD kelas V. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Hal. 37. 
Penilaian
Teknik penilaian
Penilaian proses : bermain peran
Tes formatif dan sumatif diakhir siklus I dan II.
Makassar,   Maret  2010

    Guru Kelas VA          Peneliti,

      Sitti Naisyah.             Wisnah
      NIP. 132069878                         NIM : 0747241402
Mengetahui
Kepala Sekolah Inpres BTN IKIP  Makassar

  Hj. Yasseng, S. Pd.
NIP. 196007151982032015

EVALUASI SIKLUS I
TES TERTULIS
Nama : ……………….
No. Induk : ……………….
Essay Test :
Sebutkan 2 pengertian organisasi?
………………..
………………..
Sebutkan 2 contoh bentuk organisasi?
………………..
……………….
Sebutkakn 2 ciri-ciri organisasi?
………………..
………………..
Sebutkan 2 contoh tugas organisasi?
………………..
………………..
Gambarkan 2 struktur organisasi?
………………..
………………..

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS II
Sekolah : SD Inpres BTN IKIP  Makassar
Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Kelas/Semester : V/ II (Dua)
Alokasi Waktu : 2 x 35 Menit (2x pertemuan)
Standar Kompetensi : 
Memahami kebebasan berorganisasi
Kompetensi Dasar : 
Menampilkan peran serta dalam memilih organisasi di sekolah
Indikator :  
Menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat
Menyebutkan cirri-ciri sebuah organisasi
Menjelaskan tugas anggota organisasi
Tujuan pembelajaran :
Murid dapat menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat
Murid dapat menyebutkan cirri-ciri sebuah organisasi
Murid dapat menjelaskan tugas anggota organisasi
Materi Pelajaran
Bentuk-bentuk organisasi
Metode dan Model Pembelajaran
Model pembelajaran Role Playing

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
Pertemuan I (3 x 35 menit)
Kegiatan Awal
Murid memberi salam dan berdoa.
Apersepsi :
a)  Menanyakan kesiapan belajar siswa
b) Melaksanakan absensi kehadiran siswa.
c) Guru menjelaskan secara singkat tujuan pembelajaran hari itu. 
Kegiatan Inti
Menyajikan materi pelajaran bentuk-bentuk organisasi baik dilingkungan sekolah dan masyarakat.
Menjelaskan ciri-ciri organisasi.
Menjelaskan tugas-tugas organisasi.
Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajukan pertanyaan.
Melakukan umpan balik kepada murid.
Guru mendemonstrasikan cara berorganisassi yang baik.
Mendiskusikan bersama kelompok belajar murid tentang cara cara berorganisassi yang baik.
Guru menjelaskan teknis pelaksanaan peran yang harus dilakukan murid pada masing-masing kelompok untuk dimainkan pada pertemuan berikutnya.  
Kegiatan Akhir
Memotivasi siwa
Menutup pelajaran

Pertemuan II (3 x 35 menit)
Kegiatan Awal
Murid memberi salam dan berdoa.
Apersepsi :
a)  Menanyakan kesiapan belajar siswa
b)  Melaksanakan absensi kehadiran siswa.
c)  Guru menjelaskan secara singkat tujuan pembelajaran hari itu. 
Kegiatan Inti
Aktivitas Guru:
Melakukan review pembelajaran pertemuan I.
Guru mempersiapkan masing-masing kelompok untuk bersiap melakukan bermain peran yang ditugaskan. Dalam hal ini kelompok I mendapat kesempatan pertama, dan selanjutnya diikuti oleh kelompok lainnya secara bergantian.
Aktivitas Murid:
Ketua dan anggota kelompok mempersiapkan ruangan/ kelas, setting ruangan dan bahan yang diperlukan untuk bermain peran.
Ketua kelompok mengingatkan anggotanya mengenai pembagian peran yang harus dimainkan.
Seluruh anggota kelompok melaksanakan bermain peran, hingga bagian akhir permainan.
Kelompok lain terlibat aktif dalam bermain peran sesuai dengan tugas kelompoknya masing-masing sesuai tema yang diperankan.
Guru melaksanakan observasi aktivitas belajar murid melalui format observasi yang telah disiapkan sebelumnya.Hingga kegiatan bermain peran oleh masing-masing kelompok berakhir, Guru menyimpulkan materi pelajaran.     

Kegiatan Akhir
Memotivasi siwa
Menutup pelajaran
Media Belajar dan Sumber Belajar
Media belajar 
Gambar
Lembar observasi aktivitas belajar murid
Lembar evaluasi tertulis.  
Sumber
Silabus mata pelajaran PKn SD Inpres Maccini
Sajari dan Suharto. Buku Paket Pendidikan Kewarganegaraan untuk SD kelas V. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Hal. 69.  
Widihastuti dan Rahayuningsih. Buku Paket Pendidikan Kewarganegaraan untuk SD kelas V. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Hal. 36. 
Penilaian
Teknik penilaian
Penilaian proses : bermain peran
Tes formatif dan sumatif diakhir siklus I dan II.
      Makassar,   Maret  2010
          Guru Kelas VA          Peneliti,

      Sitti Naisyah.             Wisnah
      NIP. 132069878                         NIM : 0747241402
Mengetahui
Kepala Sekolah Inpres BTN IKIP  Makassar

  Hj. Yasseng, S. Pd.
NIP. 196007151982032015

EVALUASI SIKLUS II
TES TERTULIS
Nama : ……………….
No. Induk : ……………….
Essay Test :
Sebutkan 2 bentuk keputusan bersama organisasi?
………………..
……………….
Sebutkan 2 tata cara pengambilan keputusan bersama?
………………..
……………….
Sebutkakn 2 manfaat musyawarah?
……………..
………………..
Sebutkan 2 sikap yang harus ada dalam bermusyawararh?
………………..
………………..
Gambarkan 2 akibat bila tidak memlaksanakan musyawarah dalam pengambilan keputusan ?
………………..
………………..

LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN GURU
DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR ROLE PLAYING
SIKLUS I

No                 
Akrivitas
Pengamatan
Keterangan YaTidakl

Kegiatan Awal
Membuka pelajaran dengan salam
Menyamapaikan tujuan pembelajaran

Masih perlu diperjelas lagi tujuan yang akan dicapai.  2

Kegiatan Inti
Langkah Perencanaan
Guru mempelajari dengan cermat kegiatan yang akan dismimulasikan dan catat bagian-bagian atau langkah-langkah yang akan diperagakan.
Guru membuat skenario simulasi kepada topik, dan tujuan pembelajaran serta catatan  tentang bagian dan langlah-langkah utama  yang telah dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
Guru melakukan uji coba penyempurnaan scenario simulasi yang telah dibuat menjadi skenario akhir yang akan di gunakan dikelas.
Langkah Persiapan
Guru menyiapkan dan memeriksa  kesiapan peralatan serta perlengkapan pendukung lainnya.
Guru menjelaskan kepada siswa gambaran umum  simulasi dan kaitan  dengan topic yang dipelajari, tujuan yang akan dicapai serta apa yang diharapkan dari siswa
Guru menyiapakn skenario simulasi yang telah disempurnakan
Langkah Pelaksanaan
Lakukan langkah demi langkah kegiatan simulasi sesuai dengan skenario.
Guru berperan sebagai sutradara yang mengendalikan  kegiatan agar simulasi  berjalan sesuai dengan skenario dan dilaksanakan  dengan serius.
Guru menyiapakan siswa yang kurang serius agar memfokuskan diri pada kegiatan  supaya memberikan  makna bagi dirinya  dan kelas.
Guru membuat catatan-catatan tentang hal-hal perlu didiskusikan  pada akhir pembelajaran yang meliputi hal-hal yang perlu diperbaiki.
Jika waktu masih tersedia, ulangi melakukan langkah emi langkah dengan terlib dahulu mendiskusikan hal-hal yang perlu diperbaiki.
Guru meminta  siswa mentebutkan urutan langkah demi langkah dengan kecepatan sub-normal dan guru melakukan langkah sesuai dengan urutan yang disebutkan oleh siswa
Langkah Evaluasi dan Penutup
Lontarkan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan bagian atau langkah yang baru diperagakan berdasarkan catatan-catatan yang telah dibuat.
Minta komentar dari siswa tentang pelaksanaan langkah-langkah dilakukan oleh temannya.
Buatlah rangkuman dari kegiatan simulasi yang terkait dengan tujuan pembelajaran dengan menggalinya dari siswa.

  










































   

  
































Pemberian contoh masih perlu diperjelas3 Kegiatan Akhir
Memberikan tes
Mengecek pemahaman siswa
Menutup pelajaran
.

Makassar,    Maret 2010
Peneliti

Wisnah
NIM : 0747241402

LEMBAR OBSERVASI DAN INDIKATOR AKTIVITAS BELAJAR MURID DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
SIKLUS II
NoAkrivitasPengamatanKeteranganYaTidakl

Kegiatan Awal
Membuka pelajaran dengan salam
Menyamapaikan tujuan pembelajaran

Guru sudah menjelaskan secara detail  tujuan pembelajaran yang akan dicapai2
























Kegiatan Inti
Langkah Perencanaan
Guru mempelajari dengan cermat kegiatan yang akan dismimulasikan dan catat bagian-bagian atau langkah-langkah yang akan diperagakan.
Guru membuat skenario simulasi kepada topik, dan tujuan pembelajaran serta catatan  tentang bagian dan langlah-langkah utama  yang telah dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
Guru melakukan uji coba penyempurnaan scenario simulasi yang telah dibuat menjadi skenario akhir yang akan di gunakan dikelas.
Langkah Persiapan
Guru menyiapkan dan memeriksa  kesiapan peralatan serta perlengkapan pendukung lainnya.
Guru menjelaskan kepada siswa gambaran umum  simulasi dan kaitan  dengan topic yang dipelajari, tujuan yang akan dicapai serta apa yang diharapkan dari siswa
Guru menyiapakn skenario simulasi yang telah disempurnakan
Langkah Pelaksanaan
Lakukan langkah demi langkah kegiatan simulasi sesuai dengan skenario.
Guru berperan sebagai sutradara yang mengendalikan  kegiatan agar simulasi  berjalan sesuai dengan skenario dan dilaksanakan  dengan serius.
Guru menyiapakan siswa yang kurang serius agar memfokuskan diri pada kegiatan  supaya memberikan  makna bagi dirinya  dan kelas.
Guru membuat catatan-catatan tentang hal-hal perlu didiskusikan  pada akhir pembelajaran yang meliputi hal-hal yang perlu diperbaiki.
Jika waktu masih tersedia, ulangi melakukan langkah emi langkah dengan terlib dahulu mendiskusikan hal-hal yang perlu diperbaiki.

Guru meminta  siswa mentebutkan urutan langkah demi langkah dengan kecepatan sub-normal dan guru melakukan langkah sesuai dengan urutan yang disebutkan oleh siswa
Langkah Evaluasi dan Penutup
Lontarkan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan bagian atau langkah yang baru diperagakan berdasarkan catatan-catatan yang telah dibuat.
Minta komentar dari siswa tentang pelaksanaan langkah-langkah dilakukan oleh temannya.
Buatlah rangkuman dari kegiatan simulasi yang terkait dengan tujuan pembelajaran dengan menggalinya dari siswa.

  












































































Guru sudah melakukan tahap-tahap pembelajaran dengan baik























3 Gegiatan Akhir
Memberikan tes
Mengecek pemahaman siswa
Menutup pelajaran

Makassar,    Maret 2010
Peneliti

Wisnah
NIM : 0747241402

DAFTAR NILAI  MURID KELAS IV
SD INPRES BTN IKIP  I MAKASSAR
SIKLUS I
No.Nama siswaJenis KelaminNilaiKet1.Sleyshyera SusanP82.A. Rian SetiawanL73.Wawan SaputraL74.Titin Sutina EfendiP85.Ayu Pratiwi SalehP66.Lisana ShidiqinaL77.Mita SasmitaP88.SartikaP59.MaslimL610.A. Muh. RijalL811.Sri Resky UtamiP512.Nur Indah SariP713.Ainun FahiraP814.Reza PrasetiaL515.Muh. AwalL616.NurhayatiP817.A. Besse HananP518.Desi ArisantiP719.Muh. Fadil ArfahL820.Muh. Fadel OkaL521.Ramdani IsrunL622.Ibrahim HarunaL823.Nur AlfiahP524.Dwi Rezki WulandariP725.MulhimahP626.Muh. Fahri AmalL827.Khusnul KhulukL528.Muh. Akmal AmirL529.Muh. AlgasaliL730.Kurniawan SaputraL531.Adinda Adriani BaharP732.SofyanL633.Filda Arun DiniP534.Agung WirawanL635.KhaerunnisaP536.Annisa Nur RamahdaniL837.A. Sitti Ainun Nur AzizahP5Nilai238Rata-rata6,4Ketuntasan7,0
Makassar,    Maret 2010
Peneliti

Wisnah
NIM : 0747241402

DAFTAR NILAI  MURID KELAS IV
SD INPRES BTN IKIP  I MAKASSAR
SIKLUS I
No.Nama siswaJenis KelaminNilaiKet1.Sleyshyera SusanP92.A. Rian SetiawanL83.Wawan SaputraL84.Titin Sutina EfendiP85.Ayu Pratiwi SalehP96.Lisana ShidiqinaL77.Mita SasmitaP88.SartikaP89.MaslimL910.A. Muh. RijalL711.Sri Resky UtamiP812.Nur Indah SariP613.Ainun FahiraP814.Reza PrasetiaL915.Muh. AwalL616.NurhayatiP817.A. Besse HananP618.Desi ArisantiP819.Muh. Fadil ArfahL920.Muh. Fadel OkaL821.Ramdani IsrunL622.Ibrahim HarunaL823.Nur AlfiahP924.Dwi Rezki WulandariP625.MulhimahP826.Muh. Fahri AmalL627.Khusnul KhulukL928.Muh. Akmal AmirL729.Muh. AlgasaliL730.Kurniawan SaputraL831.Adinda Adriani BaharP932.SofyanL733.Filda Arun DiniP834.Agung WirawanL635.KhaerunnisaP836.Annisa Nur RamahdaniL637.A. Sitti Ainun Nur AzizahP8Nilai283Rata-rata7,6Ketuntasan7,0
Makassar,    Maret 2010
Peneliti

Wisnah
NIM : 0747241402

SKETSA SKENARIO MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING
MATERI KEBEBASAN BERORGANISASI













SKETSA SKENARIO MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING
MATERI MENGHARGAI KEPUTUSAN BERSAMA















LEMBAR KERJA SISWA
MEMILIH KETUA KELOMPOK BELAJAR
Tika dan Ferdinan Bercakap-cakap sambil berjalan menuju rumah Maman!
Agilia  : Bagaimana kalau hari ini memilih ketua kelompok saja?
Antoni : Itu ide yang bagus, tapi bagaiman dengan teman-teman yang lain?
Ayu : Itu maslaah gampang, kita berdua tinggal bagi tugas, untuk
memanggil  mereka? Gimana menurut kamu?
Antoni  : Baiklah!
(Tika dan Ferdinan sudah sampai di rumah Maman), mereka berdua menceritakan tujuan kedatangannya.

Agung : Setuju! Sekarang kita bagi tugas
Ayu : Baiklah! Siapa yang akan memanggil Salim?
Antoni  : Saya yang akan ke rumah Salim dan kamu Tika ke rumah Eva.
Gimana?
(Setelah beberapa waktu mereka berlima sudah sampai di rumah Maman).
Tok…..tok…..tok…..Assalamualaikum!
Agung  : Waalaikumsalam, silahkan masuk teman-teman....Nah, sekarang
kelompok kita sudah lengkap.Bagaimana kalau kita langsung ke topik utamanya.
Ayu  : Itu lebih bagus lagi
Debi : Bagimana kalau Maman saja yang memimpin pertemuan ini.
Agung  : Baiklah! Teman-teman, sekarang kita akan memilih ketua baru.
Siapa yang bersedia menjadi ketua (suasana menjadi hening karena tidak   Ada yang berani menjadi ketua…
Ayu  : Wah…saya itu tidak berani menjadi ketua.
Antoni  : Bagaimana jika kita tunjuk saja calon ketua kelompok belajar
kita…
Agung  : Nah, itu ide yang paling bagus
Guntur : Bagaimana teman-teman?
Antoni  : Baiklah! Bagaimana kalau Eva saja yang menjadi ketua?
Agung  : Bagus, juga ide kamu…karena Eva termasuk siswa terpandai di
sekolah
Guntur : Bagaimana teman-teman, apa semuanya setuju?
Ayu  : “Setuju”. Karena menurut saya Eva juga sangat pintar
menjelaskan  pelajaran yang sulit
Antoni  : Iya…iya. Apa lagi Eva sangat sabar dalam menghadapi kita-kita
yang sulit diatur (Celutuk Ferdinan sambil menggaruk-garuk kepala)
Agung  : Apakah semua setuju Eva menjadi ketua kelompok?
Ferdinan, Tika, Salim dan Maman : Setuju…(dengan suara serentak, sambil bertepuk tangan).
Debi : Saya sangat senang mendapat keprcayaan dari teman-teman
Dengan   senang hati saya bersedia menjadi ketua kelompok belajar kita. 
PEMERINTAH KOTA MAKASSAR
DINAS PENDIDIKAN
SD INPRES BTN IKIP I MAKASSAR
Jl. Monumen Emi Saelan III Makassar. Telp. 0411 - 90222
DOKUMENTASI HASIL PENELITIAN